Page 154 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 154

Title          TOLAK OMNIBUS LAW CIPTA KERJA, BURUH: TIDAK ADA KEPASTIAN KERJA!
               Media Name     detik.com
               Pub. Date      16 Februari 2020
                              https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/4901491/tolak-omnibus- law-cipta-kerja-
               Page/URL
                              buruh-tidak-ada-kepastian-kerja
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative









               Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak RUU Omnibus Law
               Cipta Kerja (Ciptaker). Para buruh menilai justru RUU ini memberikan ketidakpastian
               kerja, jaminan sosial, dan pendapatan.

               "Di dalam RUU Cipta Kerja ini, tidak ada kepastian kerja, kepastian jaminan sosial,
               kepastian pendapatan," ungkap Presiden KSPI Said Iqbal, di Ballroom Hotel Mega
               Proklamasi, Menteng Jakarta Pusat, Minggu (16/2/2020).

               Said menilai setidaknya ada sembilan poin yang ditolak dan dinilai membebani para
               pekerja. Poin pertama menurut Said adalah terkait upah minimum. Justru, dalam
               RUU ini upah minimum untuk buruh jumlahnya menjadi semakin kecil.

               Pasalnya, upah minimum kabupaten/kota (UMK) dan upah sektoral kabupaten/kota
               (UMSK) yang dihapuskan. Sementara itu, untuk upah minimum ditetapkan lewat
               upah minimum provinsi (UMP) yang tercantum dalam pasal 88 C yang berbunyi
               gubernur menetapkan upah minimum sebagai jaring pengaman.

               "Dalam RUU Cipta kerja UMK dan UMSK yang selama ini berlaku dihapus. Berarti
               upah minimum hilang. Kalau dipaksakan UMP Jawa Barat Rp1,8 juta, UMK
               Kabupaten Bekasi Rp4,4 juta, masa turun upah mereka," ungkap Said.

               Kemudian, Said menolak aturan mengenai pesangon dalam RUU Ciptaker. Pasalnya
               besaran pesangon yang harus dibayarkan perusahaan maksimalnya hanya 17 kali
               gaji, padahal harusnya bisa hingga 34 kali gaji kalau ada pekerja yang terkena PHK
               karena kesalahan perusahaan.

               Berikutnya, Said menolak aturan yang menyebutkan bahwa hak perusahaan untuk
               menggunakan pegawai outsource dengan kuota tidak terbatas. Dalam aturan baru
               tersebut perusahaan dibebaskan untuk menambah karyawan outsource di berbagai
               bidang bahkan bekerja sebagai profesi inti dan strategis dalam sebuah perusahaan.

               "Pengunaan outsource yang bebas untuk semua jenis kerja dan waktu yang tak
               terbatas. Ini kenapa malah dibenarkan, berarti karyawan outsource bisa kerja di
               profesi yang corenya. Ini ko bisa seperti ini," sebut Said.

               Kemudian Said pun menolak aturan mengenai upah sesuai jam kerja. Pasalnya hal




                                                      Page 153 of 336.
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159