Page 255 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 255

pekerja/buruh tidak masuk kerja dan/atau tidak melakukan pekerjaan karena
               menjalankan hak waktu istirahat atau cutinya.


                Ayat 3 soal besaran upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh ketika sakit di UU
               Ketenagakerjaan pun dihilangkan. Padahal, jelas disebutkan, ketika buruh sakit
               untuk 4 bulan pertama, upah tetap dibayar 100 persen. Kemudian, untuk 4 bulan
               kedua, dibayar 75 persen dari upah, 4 bulan ketiga dibayar 50 persen dari upah,
               dan bulan selanjutnya dibayar 25 persen dari upah sebelum pemutusan hubungan
               kerja dilakukan oleh pengusaha.

               "Bisa jadi upah lebih kecil karena tidak disebutkan secara detail. Nanti diatur dalam
               peraturan pemerintah," ungkapnya.

                Pemerintah Bantah Hapus Hak Pekerja  Terpisah, Sesmenko Perekonomian
               Susiwijono Moegiarso menampik bahwa pemerintah akan menghapus hak-hak
               pekerja, termasuk cuti menikah dan cuti hamil.

               "Nggak gitu lah, nggak ada (penghapusan, Red). Tinggal dibaca saja di RUU-nya.
               Kadang kekhawatirannya berlebihan. Padahal, kan niat kami ini, selain menciptakan
               lapangan kerja baru, juga untuk meningkatkan kesejahteraan buruh yang existing,"
               ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (14/2).

               Susiwijono menolak kabar yang menyebutkan bahwa pemerintah menghapus hak-
               hak tersebut. Menurut dia, hal itu adalah hak dasar bagi pekerja. Pemerintah tak
               mungkin menghapus ataupun mengurangi hak para pekerja.

                Dia juga menolak kekhawatiran yang terkait dengan aturan upah minimum
               berdasar pertumbuhan ekonomi yang tertera pada pasal 88D.

               "Ada pasalnya. Kalau pertumbuhannya minus, minimal upahnya sama dengan tahun
               lalu. Intinya, upah nggak boleh turun."  Hal itu sekaligus menampik kekhawatiran
               pada pasal 88E yang terkait dengan upah minimum padat karya yang diatur
               terpisah. Banyak pihak yang khawatir pasal tersebut bakal memicu terjadinya rezim
               upah murah yang merugikan pekerja, khususnya di sektor tekstil pakaian jadi dan
               alas kaki.

                Susiwijono menyebutkan, kekhawatiran itu sejatinya tak perlu ada. Sebab, niat
               awal pemerintah membuat Omnibus Law Cipta Kerja adalah menciptakan lapangan
               kerja. Susiwijono menjelaskan, khusus untuk PP, pemerintah berkomitmen
               menerima usulan apa pun sejak awal.

               "Betul-betul tak kasih penuh (usulan, Red) ke teman-teman pekerja. Mana ada coba
               bikin PP seperti itu dalam sejarah? Ini betul-betul kami libatkan dari nol," jelasnya.
               Dengan kondisi itu, jika masih ada yang menolak dilibatkan, pemerintah tak bisa
               berbuat banyak. "Itu niat serius dari dulu. Pada saat komunikasi, diserang sana-sini.
               Tapi, nggak papa, itu bagian dari demokrasi. Yang jelas, pemerintah berkomitmen
               memenuhi janjinya untuk melibatkan pekerja," katanya..





                                                      Page 254 of 336.
   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259   260