Page 254 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 254

selesai dalam waktu tertentu. Misalnya, pekerjaan yang sekali selesai atau yang
               bersifat sementara, pekerjaan yang diperkirakan selesai dalam waktu yang tidak
               terlalu lama dan paling lama tiga tahun, pekerjaan yang bersifat musiman, atau
               pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk
               tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

                Selain itu, papar dia, pekerja kontrak tidak dapat digunakan untuk jenis pekerjaan
               yang bersifat tetap. Dengan demikian, selain pekerjaan tertentu yang menurut jenis
               dan sifat atau kegiatan pekerjaannya selesai dalam waktu tertentu, harus
               menggunakan pekerja tetap.

               "Tapi, dengan dihapusnya pasal 59, tak ada batasan pekerjaan apa saja yang bisa
               kontrak. Untuk semua sektor, bisa diterapkan sistem kontrak," keluhnya.

               Selain itu, tidak ada lagi batasan sampai kapan masa kontrak tersebut. Sebelumnya,
               sistem kontrak hanya berlaku paling lama 2 tahun dan boleh diperpanjang 1 kali
               untuk jangka waktu paling lama 1 tahun. "Tidak ada lagi batasan seorang pekerja
               bisa dikontrak. Akibatnya, bisa saja seorang pekerja dikontrak seumur hidup,"
               tuturnya.


                Kahar mengatakan, jika RUU itu disahkan, para pekerja bakal makin tercekik.
               Perusahaan akan cenderung mempekerjakan buruh dengan sistem kontrak kerja.
               Mereka akan merasa tidak perlu mengangkat pekerja tetap. Sebab, dengan pekerja
               kontrak, tidak ada lagi pesangon.

               "Karena pesangon hanya diberikan kepada pekerja yang berstatus karyawan tetap,"
               tegasnya.


                Nestapa buruh/pekerja tak berhenti di situ. Masalah cuti, libur, dan upah yang
               menyertainya juga bikin geleng-geleng. Memang tak ada penghapusan soal libur
               haid di pasal 81. Cuti juga tetap diberikan sebanyak 12 hari seperti yang ada di
               pasal 79 ayat 3. Libur sakit juga dibolehkan dan pekerja tetap diberi upah. Hanya,
               aturan upahnya tidak transparan. Bisa jadi pekerja diberi upah lebih rendah
               daripada yang saat ini berlaku.

               Hal itu tecermin dalam draf RUU tersebut di pasal 93. Lima ayat yang sebelumnya
               ada kini disederhanakan menjadi tiga. Kemudian, ketentuan poin pembayaran upah
               di ayat 2 dikurangi dari 8 menjadi 4 poin. Tak ada keterangan spesifik soal
               pembayaran pekerja/buruh ketika tidak masuk kerja karena menikah, menikahkan,
               mengkhitankan, membaptiskan anak, atau istri melahirkan maupun keguguran. Tak
               ada juga aturan upah untuk suami atau istri atau anak atau menantu atau orang tua
               atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah yang meninggal dunia.

                Yang ada hanya upah dibayar ketika pekerja/buruh tidak masuk kerja dan/atau
               tidak melakukan pekerjaan karena berhalangan; pekerja/buruh tidak masuk kerja
               dan/atau tidak melakukan pekerjaan karena melakukan kegiatan lain di luar
               pekerjaannya dan telah mendapatkan persetujuan pengusaha. Selain itu,





                                                      Page 253 of 336.
   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259