Page 67 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 67

pengusaha yang selama ini diberikan kepada buruh .

               "Kita bebaskan seluruh kewajiban pengusaha kepada pekerja. Pengusaha untung di
               satu sisi ya, pekerja belum tentu. Apa yang teman-teman kita dapat dari pekerja
               dari perusahaan sekarang, pasti hilang pada saat itu, dan itu masuk akal. Misalnya
               hak pensiun , hak dapat jaminan kesehatan dan lain- lain itu hilang dengan
               sendirinya karena bekerja secara jam-jam-an," ucap dia.

               Karena itu, dirinya menanyakan dalih bahwa Omnibus Law dibuat untuk
               menyejahterakan rakyat.

               Jangan sampai UU ini menulang sejarah tentang undang-undang yang dipakai oleh
               para kapitalis .

               Margarito mencontohkan pembentukan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed
               yang dilahirkan di Jekyll Island, otaknya adalah Nelson Aldrich, Rockefeller, JP
               Morgan, Henry P. Davidson.

               "Orang itu tulis di Jekyll Island di law-nya Morgan di drafnya itu, ini adalah puncak
               pertempuran mereka karena Amerika itu pernah tidak punya Bank Nasional dari
               tahun 1836-1912 itu, dan 70 tahun lebih dan prakarsanya datang dari swasta,"
               katanya.

               Karena itu, publik harus pintar dalam mengenali upaya pemerintah membuat
               Omnibus Law jika tidak ingin tertipu.

               Margarito menilai dalam pembahasan RUU Omnibus Law ini, pemerintah sudah tidak
               memandang sebagai elemen penting sebuah negara, namun hanya sebagai
               subordinat dari pemerintah saja.

               "Terakhir saya mau bilang sekali lagi, cermati betul cara berpikir kapitalis dalam
               menggunakan hukum, membelokkan hukum. Kapitalis dimanapun selalu
               mengandalkan hukum sebagai instrumen akumulasi vertikal dan horizontal, tidak
               ada yang lain," ujar dia.

               Satu hal lain yang jadi sorotan Margarito adalah waktu sangat singkat yakni 100 hari
               saja yang ditarget Presiden Jokowi untuk menyelesaikan Omnibus Law ini.

               Jika benar pembahasan sejumlah RUU dalam Omnibus Law ini hanya dilakukan
               dalam 100 hari saja maka Indonesia sebenarnya jauh lebih "jago" dibandingkan
               negara super power, AS.

               "Karena ketika AS membuat Omnibus Trade and Competitiveness Act pada 1988,
               dibutuhkan waktu selama tiga tahun. Satu undang-undang dalam jangka waktu tiga
               tahun sejak 1985 sampai 1988, dan drafnya tahun 1983 dibahasnya. Kita mau buat
               tiga bulan maka itu sangat luar biasa," ucap dia.***.




                                                       Page 66 of 336.
   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71   72