Page 47 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 agustus 2019
P. 47
"Ada yang nyuruh pembantunya cap jempol atau tanda tangan. Padahal pembantu
tidak mengerti isinya. Ada pula yang melaporkan pekerjanya kabur, sehingga dia
tidak perlu bayar gajinya setelah pekerjanya itu dideportasi. Macam-macam. Tapi
tetap kami kejar dia sampai bayar," kata Hery.
Konsul Tenaga Kerja Mochamad Yusuf mengatakan pengurusan gaji menjadi rumit
di pengadilan dan kantor tenaga kerja ketika PMI telah menandatangani surat
tersebut.
Namun penipuan akhirnya terungkap oleh instansi yang berwenang di Arab Saudi,
walaupun melalui tahap persidangan yang rumit.
"Kalau bahasa lisan, mereka sudah paham. Tapi ketika harus menandatangani
sesuatu atau membubuhkan cap jempol atas permintaan majikan, dia tidak tahu itu
isinya apa. Ini yang membuat proses persidangan di pengadilan dan maktab amal
(kantor tenaga kerja) jadi berbelit-belit," ujar Yusuf.
Yusuf mengatakan saat wawancara untuk berita acara pemeriksaan (BAP), PMI
mengaku belum menerima gaji hingga bertahun-tahun.
Wawancara tersebut dilakukan secara khusus oleh KJRI Jeddah tanpa
pendampingan pengguna jasa atau pihak yang mewakili.
Pascamoratorium pengiriman PMI yang tidak memiliki keahlian, seperti sopir
rumahan dan asisten rumah tangga, permasalahan masih saja bermunculan.
WNI perempuan juga direkrut perusahaan untuk bekerja sebagai tenaga kebersihan
di kantor-kantor dan instansi di Arab Saudi, namun kemudian disalurkan ke sektor
rumah tangga.
PMI melaporkan sebagian dari mereka diberangkatkan dengan visa ziarah, namun
diberi kartu izin menetap dan bekerja. KJRI Jeddah menyebut PMI tidak betah
bekerja karena merasa tertekan dan upah yang diterima tidak sesuai dengan
kesepakatan.
Page 46 of 56.

