Page 57 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 31 JULI 2019
P. 57
Lahir pada 4 Mei 1971 di Kabupaten Cirebon , Carmi berangkat setahun
setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD) pada tahun 1987
dan pada 1988, Carmi meminta izin kepada ayahnya untuk membantu
meningkatkan perekonomian keluarga dengan cara menjadi TKW.
"Waktu daftar, anak saya belum punya KTP. Yang ngurusnya juga
sponsor, tapi udah meninggal," kata Ilyas dirumahnya pada Minggu
siang (28/7/2019).
Ditahun 1991 atau tiga tahun setelah pemberangkatannya, Ilyas
mendapatkan kabar dari Carmi melalui surat, namun ditahun-tahun
selanjutnya kabar dari Carmi sama sekali tidak diketahui oleh pihak
keluarga.
Pada tahun 1995, Ilyas pun mendatangi kantor PT Umah Sejati Alwidah
di Jakarta, untuk mengetahui keberadaan anaknya tersebut, dalam
waktu singkat itu Ilyas pun berhasil berkomunikasi dengan Carmi.
Ilyas mengatakan, Carmi yang merupakan anak pertama dari 10
bersaudara itu, bekerja rumah pasangan suami istri Suud bin Hudaiban
dan Habibah, di Riyadh, Arab Saudi, sebagai asisten rumah tangga
(ART).
"Sampai sekarang belum ada lagi kabar," kata Ilyas.
Berbagai cara dilakukan oleh Ilyas sekeluarga untuk memulangkan
Carmi, mulai dari mengadu ke perusahaan yang memberangkatkan
anaknya itu, pemerintah desa, hingga lembaga perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia (TKI).
Ilyas mengatakan, ia pernah ditawari oleh salah satu orang yang
mengaku memiliki cara untuk memulangkan TKW yang tak kunjung
pulang, namun setelah mengeluarkan banyak uang, Carmi tetap saja
tidak kunjung pulang.
"Sudah habis harta, benda, demi anak. Tapi saya yakin anak saya masih
hidup," kata Ilyas.
Ibu kandung Carmi, Warniah (75), hanya bisa berharap, anak sulungnya
Page 56 of 63.

