Page 816 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 816

KATANYA BELA UMP BURUH, GUBERNUR ANIES JANGAN TANGGUNG HANYA
              SURATI MENAKER IDA, SEKALIAN PRESIDEN JOKOWI
              Belakangan,  surat  Gubernur  Anies  kepada  Menaker  Ida  itu,  malah  disebut  keliru  dan  bukan
              solusi. Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar menilai
              langkah  Gubernur  Anies  tersebut,  keliru.  Lantaran,  rumus  formula  penetapan  UMP  ada  di
              Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2021, yang ditandatangani Presiden Jokowi, bukan Menaker
              Ida.

              "Menurut saya, surat Anies ke Menaker adalah sebuah kekeliruan besar. Kenapa? karena tidak
              ada kewenangan Menaker untuk mengubah rumus formula penetapan UMP. Seharusnya Pak
              Anies berkirim surat ke Presiden, karena yang memiliki kewenangan untuk mengubah formula
              penetapan UMP adalah Presiden," jelas Timboel, Selasa (30/11/2021).

              Timboel menjelaskan, mengacu pada UU Cipta Kerja junto PP No. 36 Tahun 2021, sebenarnya
              yang memiliki kewenangan menetapkan UMP adalah Gubernur, dan oleh karenanya Gubernur
              Anies memiliki kewenangan penuh untuk menetapkan UMP 2022 di DKI Jakarta.

              Menurutnya, walaupun ada rumus formula penetapan UMP di PP 36/2021, tetapi Gubernur Anies
              punya kewenangan untuk menetapkan UMP DKI lebih tinggi dari ketentuan rumus formula yang
              ada di PP 36/2021.
              "Sekarang  masalahnya  apakah  Pak  Anies  berani  atau  tidak  menetapkan  UMP  DKI  di  2022
              melebihi ketentuan formula di PP No. 36 tersebut? Pak Anies harusnya belajar dari keberanian
              Pak Jokowi yang pernah menetapkan UMP DKI naik 43 persen," ujarnya.

              Dalam hal ini, Gubernur Anies perlu belajar dari Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja
              Purnama yang akrab disapa Ahok. Pada 2014, Gubernur Ahok berani menetapkan kenaikan UMP
              DKI sebesar 11 persen.

              Kala itu, Gubernur Ahok menaikkan UMP ketika PP 78 Tahun 2015 menetapkan kenaikan UMP
              berdasarkan penjumlahan inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang saat itu mencapai 8
              persen. Selanjutnya pada PP 78/2015 un, upah minimum ditetapkan sebagai program strategis
              nasional. "Saya mendorong Pak Anies merevisi keputusannya tentang kenaikan UMP DKI di 2022,
              yaitu dengan menetapkan kenaikan UMP 2022 lebih besar nilainya dari ketentuan rumus yang
              ada di PP 36 Tahun 2021," ujarnya.

              Timboel meminta Gubernur Anies membuktikan komitmen membela buruh. Tidak perlu takut
              atau khawatir dengan pasal 68 UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

              "Bukankah Pak Anies akan selesai menjadi Gubernur tanggal 16 Oktober 2022 dan ini artinya,
              kalau pun ada ancaman di Pasal 68 tersebut, tentunya prosesnya juga akan memakan waktu
              tidak cepat, dan prosesnya mungkin akan relatif bersamaan dengan selesainya Pak Anies sebagai
              gubernur DKI," jelasnya.
              Dia menyarankan, penetapan UMP 2022 ini merupakan kesempatan terakhir Anies Baswedan
              untuk menetapkan UMP, karena Anies pada tahun selesai bertugas sebagai Gubernur dan tidak
              bisa lagi menetapkan UMP DKI untuk tahun 2023.

              "Semoga Pak Anies memahami kewenangan hukumnya dalam menetapkan UMP DKI dan Pak
              Anies  memiliki  keberanian  seperti  Pak  Jokowi  dan  Pak  Ahok  dalam  menetapkan  UMP  DKI,"
              pungkas Timboel.





                                                           815
   811   812   813   814   815   816   817   818   819   820   821