Page 812 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 812

UMK PALEMBANG 2022 NAIK RP19 RIBU, KSBSI: KAMI MENOLAK

              Upah Minimum Kota (UMK) Palembang tahun 2022 telah ditetapkan Dinas Ketenagakerjaan Kota
              Palembang  bersama  sejumlah  anggota  Dewan  Pengupahan  kota  setempat,  sebesar
              Rp3.289.409. Jumlah tersebut naik Rp19 ribu dibanding tahun ini.

              Dewan Pengupahan Palembang dari Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Ali
              Hanafiah, mengatakan hasil rapat UMK terdapat kenaikan sebesar 0,56 persen atau Rp19.409.
              Sehingga usulan UMK Palembang tahun depan itu sebesar Rp3.298.409.

              “Tapi  dalam  usulan  UMK  itu.  Kami  (sebagai  perwakilan  buruh)  menolak.  Kami  tidak
              menandatanganinya,” ujarnya di Palembang, Selasa (30/11).

              Menurutnya, alasan perhitungan upah tersebut berlandaskan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja
              yang kini masih dalam judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK). Meski pada keputusan MK,
              UU itu masih bisa digunakan dalam waktu dua tahun.

              Kendati, lanjutnya, bila mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 Pasal
              24 tentang Program Strategis yang Berdampak Luas terhadap masyarakat, maka perhitungan
              upah dapat menggunakan rumusan peraturan yang lama.

              “Menanggapi usulan ini, kami dari KSBSI akan melakukan aksi penolakan,” katanya.

              Sementara  itu,  Kepala  Disnaker  Kota  Palembang,  M  Yanurpan  Yany,  membenarkan  sudah
              mendapatkan  hasil  perhitungan  terkait  UMK  bersama  dengan  Dewan  Pengupahan.  Hasil
              perhitungan tersebut akan disampaikan kepada Gubernur Sumsel, Herman Deru.

              “Sudah ada keputusan dari rapat bersama Dewan Pengupahan. Hasilnya juga sudah dilaporkan
              kepada Wali Kota Palembang dan akan diteruskan kepada Gubernur Sumsel,” ujarnya.

              Perhitungan UMK itu, sambungnya, memang berdasarkan UU Cipta Kerja Tahun 2020 dan PP
              Nomor  36  Tahun  2021  tentang  Pengupahan.  Dimana  sudah  ada  ketentuan  rumusan  dalam
              perhitungan pengupahan.

              “Sekarang masih menunggu Surat Keputusan Gubernur Sumsel,” katanya.

              Sebelumnya, Gubernur Sumsel, Herman Deru, mengatakan untuk kabupaten dan kota belum
              karena memang belum ada usulan. Hal itu disebabkan masih menunggu petunjuk khusus setelah
              keputusan MK ini, artinya kebijakan yang bersifat strategis agar ditunda dulu.

              “Jadi, kami akan diskusi secara khusus dulu atas pengajuan dari buruh ini, baik diskusi kepada
              Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan RI dan Kemendagri RI. Selama ini
              belum ditetapkan di kabupten dan kota, saya pikir masih memakai aturan yang diberlakukan
              kemarin,” katanya usai menerima aspirasi dari para buruh yang tergabung dalam Konfederasi
              Serikat Pekerja/Buruh di Halaman Kantor Gubernur, Senin (30/11).
















                                                           811
   807   808   809   810   811   812   813   814   815   816   817