Page 160 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 160

KENAIKAN UMP DI BAWAH RP 50 RIBU, BURUH SEBUT PEMERINTAH MEMALUKAN

              Pemerintah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2022 sebesar 1,09%.
              Dengan kenaikan sebesar itu, tambahan upah buruh kemungkinan tidak akan sampai Rp 50 ribu.

              Berdasarkan  hitungan  Asosiasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (ASPEK  Indonesia)  dan
              mempertimbangkan  PP  No.  36  tahun  2021  maka  kenaikan  UMP  tahun  2022  tertinggi  hanya
              sebesar Rp 37.538 dan kenaikan terendah adalah hanya naik Rp 14.032.

              Kenaikan tertinggi ada di Jakarta dengan melihat UMP tahun ini di kisaran Rp 4.416.186,548.

              Kenaikan  akan  menjadi  sebesar  Rp  4.453.724  dari  sebelumnya  tahun  2021  sebesar  Rp
              4.416.186,548. Artinya hanya naik sebesar Rp 37.538.

              Sementara itu, kenaikan terendah UMP tahun 2022 adalah di Jawa Tengah menjadi sebesar Rp
              1.813.011.

              Angka itu hanya naik sebesar Rp 14.032 dibanding UMP tahun 2021 sebesar Rp 1.798.979,00.

              "Ini sangat memalukan di tengah kondisi rakyat yang semakin sulit dan daya beli masyarakat
              yang semakin rendah. Rakyat dipaksa untuk terus miskin," tutur Mirah Sumirat, Presiden Asosiasi
              Serikat Pekerja Indonesia, dalam siaran pers, Rabu (17/11).

              Mirah  menambahkan  kenaikan  UMP  tahun  depan  seharusnya  mempertimbangkan  bahwa
              pemerintah tidak menaikkan UMP tahun 2021. Selain itu, dampak pandemi Covid-19 yang masih
              berlangsung tahun depan.

              "Kalau mau fair, kita lihat insentif di masa pandemi lebih banyak diterima pengusaha daripada
              buruh. Banyak buruh yang work from home sehingga kebutuhan bertambah seperti internet,"
              ujarnya.

              Terkait  kenaikan  UMP,  Mirah  menjelaskan  pemerintah  menetapkan  kenaikan  upah  minimum
              berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.

              Aturan tersebut merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020
              tentang Cipta Kerja.

              "Pemerintah sedang mempermalukan dirinya sendiri, karena terbukti membuat aturan turunan
              berupa PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, yang justru bertentangan dengan UU No.
              11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja,"kata Mirah Sumirat.

              Mirah  mengatakan  dalam  UU  Cipta  Kerja  kenaikan  upah  minimum  dihitung  hanya  berdasar
              variabel pertumbuhan ekonomi atau inflasi (bukan akumulasi).

              Namun dalam PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, ada tambahan formula baru yang
              ditetapkan sepihak oleh Pemerintah, yang tidak diatur dalam UU Cipta Kerja, yaitu penyesuaian
              nilai upah minimum ditetapkan dalam rentang nilai batas atas dan batas bawah.

              Nilai batas atas upah minimum dihitung berdasarkan rata-rata konsumsi per kapita, rata-rata
              banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja
              pada setiap rumah tangga.

              Nilai batas bawah upah minimum dihitung dari batas atas upah minimum dikalikan 50%.






                                                           159
   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165