Page 163 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 163

Seperti diketahui, saat ini masyarakat masih berada di masa sulit imbas pandemi Covid-19.

              Ditambah lagi, Pemerintah belum lama ini memutuskan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan
              naik, dari 10 persen menjadi 11 persen mulai April 2022.

              Hal-hal seperti itu dinilainya sangat tidak memihak kepentingan pekerja.

              "Tahun depan ada kenaikan PPN 10 sampai 11 persen. Kebijakan ini kan tidak mengakomodasi
              kepentingan dari para pekerja," jelas Bhima.

              "Ini sebenarnya cukup berisiko menghambat daya beli masyarakat yang sekarang dalam masa
              pemulihan, dan pertumbuhan kinerja ritel juga berpengaruh," pungkasnya.

              Upah Minimum Tahun Depan Cuma Naik 1 Persen, Buruh: Ini Sangat Memalukan

              Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek Indonesia) memprotes keras keputusan tersebut.

              Presiden Aspek Indonesia Mirah Sumirat menjelaskan, Pemerintah menetapkan kenaikan upah
              minimum berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.

              Yang di mana, aturan tersebut merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11
              Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
              "Pemerintah sedang mempermalukan dirinya sendiri, karena terbukti membuat aturan turunan
              berupa PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan. Yang justru bertentangan dengan UU No.
              11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja," ungkap Mirah, Rabu (17/11/2021).

              Mirah  kembali  melanjutkan,  dalam  UU  Cipta  Kerja,  kenaikan  upah  minimum  dihitung  hanya
              berdasar variabel pertumbuhan ekonomi atau inflasi (bukan akumulasi).

              Namun dalam PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, ada tambahan formula baru yang
              ditetapkan sepihak oleh Pemerintah, yang tidak diatur dalam UU Cipta Kerja

              Yaitu  penyesuaian  nilai  upah  minimum  ditetapkan  dalam  rentang  nilai  batas  atas  dan  batas
              bawah.

              Nilai batas atas upah minimum dihitung berdasarkan rata-rata konsumsi per kapita, rata-rata
              banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja
              pada setiap rumah tangga.
              Nilai batas bawah upah minimum dihitung dari batas atas upah minimum dikalikan 50 persen.


              Formula baru rentang nilai batas atas dan batas bawah dalam PP No. 36 tahun 2021 inilah yang
              membuat kenaikan upah minimum 2022 hasilnya justru di bawah inflasi ataupun pertumbuhan
              ekonomi.

              Mirah Sumirat mengungkapkan, berdasarkan PP No. 36 tahun 2021, kenaikan UMP 2022 tertinggi
              adalah di DKI Jakarta menjadi sebesar Rp4.453.724 dari sebelumnya tahun 2021 sebesar Rp
              4.416.186,548.

              Artinya hanya naik sebesar Rp 37.538.

              Sedangkan  kenaikan  terendah  UMP  tahun  2022  adalah  di  Jawa  Tengah  menjadi  sebesar
              Rp1.813.011,  atau  hanya  naik  sebesar  Rp14.032  dibanding  UMP  tahun  2021  sebesar
              Rp1.798.979.




                                                           162
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168