Page 354 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 354

"Jauh-jauh  hari  kita  teman-teman  di  kabupaten/kota  sudah  mencoba  meminta  data-data
              tersebut ke BPS kab/kota.
              Namun, kata dia, BPS menyatakan tidak mempunyai data-data yang dibutuhkan tiba-tiba muncul
              Surat Edaran (SE) menaker RI tanggal 9 Nopember 2021 mengenai data-data pertumbuhan
              ekonomi se-Indonesia.

              "Kami  sangat  meragukan  data-data  yang  disampaikan  Menaker  tersebut,  dalam  sejarah
              pengupahan baru kali ini di Indonesia dalam penetapan Upah Minimum 2022 diatur mengenai
              ambang atas dan ambang bawah dalam penetapan upah minimum," paparnya.

              Roy Jinto menjelaskan, kalau penerapan ambang batas dan ambang bawah diterapkan, maka
              sudah dapat dipastikan upah buruh beberapa tahun kedepan tidak akan naik. Kalaupun naik,
              hanya berkisar Rp 18 ribu.

              "Oleh karena itu Serikat Pekerja/Serikat Buruh ditingkat Nasional dan Tingkat Daerah sepakat
              untuk melakukan Mogok Daerah dan Mogok Nasional," katanya.

              Selain itu, kata dia, buruh pun memberikan beberapa tuntutan. Pertama, meminta Mahkamah
              Konstitusi (MK) membatalkan UU Cipta Kerja. Kedua, menetapkan Upah Minimum Tahun 2022
              sebesar 10 persen.

              "Mogok akan kita lakukan sebelum penetapan Upah Minimum Tahun 2022," katanya.

              Roy menegaskan, di bulan Desember 2022 apabila MK tidak membatalkan UU Cipta Kerja, maka
              buruh akan mogok nasional. Karena, buruh menilai bertentangan dengan UUD 1945 dan UU 12
              tahun  2011  sebagaimana  yang  bisa  dilihat  dalam  fakta-fakta  persidangan.  Semua  ahli
              menyatakan bahwa Metode Omnibus Law tidak dikenal dalam UU 12/2011 tentang Pembentukan
              Peraturan Perundang undangan.
              "Kami akan mogok nasional dan mogok Daerah. Ini terpaksa kami lakukan karena pemerintah
              memaksakan kehendak untuk mendegradasi hak-hak kaum buruh," katanya.





































                                                           353
   349   350   351   352   353   354   355   356   357   358   359