Page 381 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 381

BURUH SIAP TURUN KE JALAN: UMP 2022 LEBIH BURUK DARI ZAMAN ORBA,
              RAKYAT DIPAKSA TERUS MISKIN!
              Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  mengumumkan  rata-rata  kenaika  upah  minimum
              provinsi (UMP) 2022 sebesar 1,09 persen. Jauh dari tuntutan asosiasi buruh yang meminta 10
              persen. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dalam keterangan pers Selasa kemarin
              menolak penetapan UMP tersebut. KSPI menyebut UMP yang ditetapkan pemerintah tersebut
              lebih rendah jika dibandingkan pada era Orde Baru.

              "Pemerintah  lebih  memberikan  proteksi  kepada  kalangan  pengusaha  atau  pemilik  modal
              dibandingkan memberikan pelindungan kepada kaum pekerja/buruh, atau pegawai," kata Ketua
              KSPI, Said Iqbal.

              KSPI beralasan penerapan batas atas dan batas bawah upah yang menurutnya tidak diatur di
              dalam Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020, tentang Cipta Kerja atau disebut Omnibus
              Law.
              "Formula kenaikan upah minimum batas bawah dan batas atas tidak dikenal di dalam Omnibus
              Law UU Cipta Kerja yang ditandatangani Presiden dan DPR RI. Kedua, upah minimum adalah
              safety  net  atau  jaring  pengaman.  Dalam  Konvensi  ILO,  upah  minimum  merupakan  jaring
              pengaman. Saya tidak pernah menemukan satu negara di seluruh dunia istilah batas bawah dan
              batas atas dalam penetapan upah minimum," katanya.

              Di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, Pasal 26 ayat
              2 tertulis bahwa penyesuaian nilai upah minimum ditetapkan pada rentang nilai tertentu di antara
              batas atas dan batas bawah upah minimum di masing-masing wilayah.

              Senada  dengan  KSPI,  Asosiasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (Aspek  Indonesia)  juga  menolak
              penetapan UMP versi pemerintah. Presiden Aspek Indonesia Mirah Sumirat menyitir PP Nomor
              36 tahun 2021, mengatakan kenaikan UMP 2022 tertinggi adalah di DKI Jakarta menjadi sebesar
              Rp  4.453.724  dari  sebelumnya  tahun  2021  sebesar  Rp  4.416.186,548  atau  naik  sebesar  Rp
              37.538.

              Sedangkan  kenaikan terendah  UMP  tahun  2022  adalah  di  Jawa Tengah  menjadi  sebesar  Rp
              1.813.011,  atau  hanya  naik  sebesar  Rp  14.032  dibanding  UMP  tahun  2021  sebesar  Rp
              1.798.979,00.

              "Artinya dengan kenaikan UMP tahun 2022 tertinggi hanya sebesar Rp 37.538 dan kenaikan
              terendah adalah hanya naik Rp 14.032, ini sangat memalukan di tengah kondisi rakyat yang
              semakin  sulit  dan  daya  beli  masyarakat  yang  semakin  rendah.  Rakyat  dipaksa  untuk  terus
              miskin," kata Mirah Sumirat dalam keterangan tertulis Rabu.

              Padahal, pada 2020, kata Mirah, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah memutuskan untuk
              tidak menaikkan upah minimum tahun 2021, dengan hanya berdasarkan Surat Edaran Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada
              Masa Pandemi Covid-19.

              Dengan demikian, Mirah mengatakan adanya UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 dan PP
              Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan, semakin membuktikan bahwa Pemerintahan Joko
              Widodo  memberikan  karpet  merah  kepada  pengusaha  dan  tidak  berpihak  pada  pekerja  dan
              rakyat  Indonesia.  Untuk  itu,  Aspek  Indonesia  sebagai  federasi  serikat  pekerja  afiliasi  KSPI,
              mendukung penuh rencana mogok nasional secara konstitusional untuk menolak penetapan UMP
              2022 tersebut. "Karena tidak manusiawi dan ini semakin membuktikan bahwa Pemerintah tidak
              mampu memberikan kehidupan yang layak kepada rakyatnya," ujar Mirah Sumirat.


                                                           380
   376   377   378   379   380   381   382   383   384   385   386