Page 250 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JUNI 2020
P. 250
NEW NORMAL DISEBUT PELUANG POTENSIAL BAGI PELAKU UMKM
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang paling terpukul
dari adanya pandemi Covid-19. padahal sektor tersebut merupakan yang paling banyak
menyerap tenaga kerja sekitar 97% dan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB)
nasional sekitar 60%. Karenanya, salah satu fokus pemerintah dalam program Pemulihan
Ekonomi Nasional (PEN) adalah memulihkan sektor UMKM. Dari total anggaran penanganan
Covid-19 yang akan ditingkatkan menjadi Rp 695,2 triliun, dukungan untuk UMKM sebesar Rp
123,46 triliun.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Teten Masduki menyampaikan, dampak yang
diterima sektor UMKM pada krisis kali ini memang sangat berbeda dengan yang dialami saat
krisis tahun 1998, di mana saat itu sektor UMKM tampil menjadi pahlawan ekonomi. Sedangkan
saat ini UMKM menjadi sektor yang paling terpukul, baik dari sisi supply maupun demand.
"Pemerintah meyakini, bilakita bisa membantu menyelesaikan masalah UMKM pada saat ini,
paling tidak kita bisa mengurangi angka kemiskinan dan angka penganguran agar tidak jatuh
terlalu dalam," kata Teten Masduki.
Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sejak Maret
2020, Teten mengatakan sektor-sekor yang paling terdampak pandemi adalah UMKM sektor
makanan dan minuman, penyediaan akomodasi, perdagangan, dan juga industri pengolahan.
Namun Teten melihat sebetulnya masih ada peluang bagi sebagian UMKM untuk tetap
bertumbuh di tengah pandemi Covid-19, khususnya bagi UMKM yang bisa menyesuaikan
perubahan perilaku masyarakat.
"Sebenarnya masih ada peluang bagi UMKM, bahkan ada beberapa yang masih bisa tumbuh.
Kita melihat sejak diterapkannya social distancing dan work from home, lalu dengan PSBB, ini
memang ada perubahan perilaku di mana aktivitas lebih banyak di rumah, lalu belanja online
dan konsumsi produk kesehatan serta daya tahan tubuh. UMKM yang bisa melakukan adaptasi
dengan perubahan perilaku masyarakat ini yang bisa tumbuh," kata Teten.
Selama masa PSBB, Teten mengatakan transaksi di berbagai platform e-Commerce meningkat
tajam. Penjualan bulanan di e-Commerce naik 26% dibandingkan rata-rata transaksi bulanan di
kuartal kedua tahun sebelumnya. Begitu juga dengan transaksi harian yang naik menjadi 4,8
juta transaksi dari rata-rata 3,1 juta transaksi. Bahkan konsumen baru naik 51%.
Sayangnya peluang ini belum ditangkap oleh sebagian besar UMKM yang saat ini berjumlah
sekitar 64 juta. "UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital baru 13% atau sekitar
8 juta pelaku usaha. Sedangkan 87% masih offline," kata Teten.
Untuk membantu sektor UMKM agar bisa segera bangkit, Teten menyampaikan pemerintah juga
telah menyiapkan sejumlah stimulus untuk membantu dari sisi supply dan juga demand. Untuk
UMKM yang memiliki masalah cashflow, bantuan diberikan dalam bentuk insentif pajak, serta
program relaksasi dan restrukturissi kredit selama enam bulan. Ada juga pembiayaan baru yang
dipermudah bagi UMKM yang membutuhkan.
"Beberapa produk UMKM di sektor pertanian dan perikanan atau peternakan yang tidak diserap
pasar, juga bisa diserap oleh opteker BUMN pangan. Untuk koperasi, yang sekarang
mendapatkan kesulitan pembiayaan, ini kita berikan pinjaman lunak dengan periode satu tahun
dan bunga rendah 3%," papar Teten.
Di dalam tatanan kehidupan normal yang baru atau new normal, menurutnya pelaku UMKM bisa
segera melakukan aktifatas usaha dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 untuk
bisa menangkap peluang-peluang yang ada.
249

