Page 265 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JUNI 2020
P. 265

PENGANGGUR BISA LEBIH BANYAK

              Angka  pengangguran  berpotensi  lebih  tinggi  dibandingkan  sejumlah  proyeksi.  Efektivitas
              segenap stimulus dan program pemulihan ekonomi nasional diuji di tengah tuntutan efisiensi
              yang dihadapi oleh para pelaku usaha.

              Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anton J Supit, Jumat (19/6/2020),
              berpendapat,  angka  pemutusan  hubungan  kerja  (PHK)  sulit  ditekan  selama  produksi  dan
              permintaan pasar lesu. Upaya melonggarkan pembatasan pergerakan masyarakat juga belum
              bisa menjadi jaminan.

              "Pengusaha hanya memaksimalkan supaya tak teijadi PHK, tetapi PHK bukan sesuatu yang bisa
              dihindari  karena  banyak  perusahaan  akan  (menempuh)  efisiensi.  Dengan  kondisi  saat  ini,
              teknologi berperan, otomatisasi susah dihindari," ujar Anton.

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta,
              Kamis (18/6), menyebutkan, jumlah tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi
              mencapai 1,7 juta orang. Pemerintah mengantisipasi tambahan penganggur 2,92 juta orang
              hingga 5,23 juta orang tahun ini.

              Namun, Kadin mencatat angka yang lebih besar, yakni 6,4 juta pekerja terdampak pandemi
              Covid-19.  Data  itu,  antara  lain,  didapat  dari  tujuh  sektor  yang  paling  banyak  melakukan
              pemutusan hubungan kerja dan merumahkan karyawan, yakni perhotelan, restoran, produksi
              alas kaki, ritel, farmasi, tekstil, dan transportasi darat.

              Sektor usaha tekstil merumahkan 2,1 juta orang, transportasi darat 1,4 juta pekeija, restoran 1
              juta pekerja, sepatu dan alas kaki 500.000 pekeija, perhotelan 430.000 karyawan, ritel 400.000
              pekerja, dan farmasi merumahkan 200.000 orang. "Pemerintah meminta kami merekapitulasi
              data. Kami masih mengumpulkannya. Intinya, kondisi (pengangguran) bisa lebih banyak," kata
              Anton.

              Pekerja Indonesia Mirah Sumirat meyakini, angka pengangguran terus bertambah. Apalagi, data
              yang dikumpulkan pemerintah belum menangkap kenyataan di lapangan karena ada banyak
              kendala  dalam  proses  pendataan.  "Pekerja  informal  paling  banyak  terdampak,  tetapi  yang
              terdata sedikit," ujarnya.

              Hasil kajian sejumlah lembaga memproyeksikan ledakan pengangguran. Riset Center of Reform
              on Economics (Core) Indonesia, misalnya, memproyeksikan jumlah penganggur secara nasional
              bertambah 4,25 juta menurut skenario ringan, 6,68 juta orang (skenario sedang), dan 9,35 juta
              orang (skenario berat).

              Menurut Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal, kondisi pertumbuhan ekonomi
              mengarah pada skenario berat. Dengan pertumbuhan ekonomi 2,97 persen di triwulan 1-2020,
              jumlah penganggur pada April-Juni 2020 bisa bertambah 6-9 juta orang.

              Belum efektif

              Menurut  Ida,  guna  menghindari  pemutusan  hubungan  kerja  lebih  lanjut,  pemerintah
              mengeluarkan sejumlah program, seperti stimulus bagi dunia usaha agar dapat bertahan dan
              mempertahankan pekeijanya, insentif pajak penghasilan bagi badan usaha serta usaha kecil dan
              menengah, serta jaring pengaman sosial bagi pekerja.

              Namun, berbagai program itu dinilai belum efektif. Anton mengatakan, untuk mencegah lebih
              banyak  PHK,  pelaku  usaha  sektor  riil  membutuhkan  dukungan  finansial  yang  lebih  konkret.
              Kebijakan mitigasi yang dikeluarkan pemerintah belum menjawab persoalan di lapangan.

                                                           264
   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270