Page 179 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 NOVEMBER 2019
P. 179
Pengacara PT Tyfountex Slamet Rijadi dalam mediasi mengatakan, pertemuan ini
merupakan kali kedua digelar dengan melibatkan Dinas Perindustrian dan Tenaga
Kerja Sukoharjo. Pada pertemuan pertama tim pengacara sudah menjelaskan
mengenai kondisi PT Tyfountex pada petugas. Sedangkan kedua juga sama namun
disampaikan pula ke para karyawan terkena PHK.
Dijelaskannya, kondisi PT Tyfountex mengalami masalah penurunan produksi
sehingga perlu melakukan langkah berupa efisiensi dengan pengurangan karyawan.
Sebayak 1.100 karyawan akhirnya terkena PHK pada Februari-Maret 2019 lalu. PT
Tyfountex setelah melakukan PHK sudah membayar uang pesangon pada para
karyawan sebanyak tujuh hingga sembilan kali atau bulan. Nilai yang telah
dibayarkan juga sesuai kesepakatan awal sebelumnya. Pembayaran dilakukan setiap
akhir bulan dengan cara ditransfer ke masing masing rekening karyawan terkena
PHK. Namun ditengah jalan PT Tyfountex kemudian menemui masalah baru karena
tidak mampu membayar uang pesangon 1.100 karyawan terkena PHK sebesar satu
kali gaji secara langsung. Karena itu teknis pembayaran dilakukan dengan cara
diangsur sebesar 50 persen terlebih dahulu. Meski begitu PT Tyfountex tetap
memiliki komitmen membayar penuh pesangon karyawan terkena PHK.
"Kalaupun dipaksakan tetap tidak mungkin bisa. Kemampuan bayar sekarang hanya
50 persen dan akan dimulai pada 22 November nanti," ujarnya.
Slamet Rijadi menambahkan pembayaran pesangon bulan September baru akan
dibayarkan pada 22 November dengan besaran 50 persen dari gaji. Dan
pembayaran bulan Oktober akan dibayarkan pada Desember dan seterusnya.
Arista Windiana Pamuncak dari Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum UMS selaku
pengacara 1.100 karyawan PT Tyfountex terkena PHK mengatakan, pihaknya resmi
ditunjuk dan mendapat kuasa dari 1.100 karyawan PT Tyfountex terkena PHK. Hal
itu ditunjukan dengan bukti adanya surat kuasa dari 1.100 karyawan terkena PHK.
Page 178 of 193.

