Page 211 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 9 APRIL 2020
P. 211

Title          JANGAN SAMPAI OMNIBUS LAW DIBAHAS PAKAI JURUS SKS
               Media Name     jpnn.com
               Pub. Date      08 April 2020
               Page/URL       https://www.jpnn.com/news/jangan-sampai-omnibus-law-dibahas-pakai-juru s-sks
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive











               Anggota Komisi XI DPR Elnino M Husein Mohi mengatakan, Rancangan Undang-
               Undang (RUU) Omnibus Law adalah jenis RUU yang bersifat menyederhanakan
               regulasi dengan cara merevisi dan mencabut banyak undang-undang sekaligus.

               "Sederhananya, RUU sapu jagat. For everything! Hanya 174 pasal memang, tetapi
               secara subtansi RUU ini memuat perubahan, penghapusan dan pembatalan atas 79
               undang-undang yang terkait dengan pembangunan dan investasi," ujar Elnino
               dalam pesan tertulisnya, Rabu (8/4).

               Menurut anggota Fraksi Partai Gerindra ini, RUU Omnibus Law atau RUU Cipta Kerja
               yang diajukan pemerintah, mencakup banyak isu penting dan strategis yang perlu
               dikaji betul. Misal, lingkungan hidup, otonomi daerah, ketenagakerjaan,
               penyederhanaan prosedur investasi, dan banyak hal lain.

               "Meski tujuannya fokus untuk merampingkan regulasi bagi penciptaan kerja, tetapi
               jangan sampai short-cut-nya salah. Alih-alih menyederhanakan, ruu ini malah bikin
               ribet. Dimaksudkan untuk menghapus over-lapping dan over-regulated, malah justru
               sebaliknya," kata Elnino.

               Menurutnya, dalam RUU Cipta Kerja tercatat mensyaratkan 500-an aturan turunan
               (peraturan pemerintah) yang justru berpotensi melahirkan regulasi yang sangat
               banyak. Karena itu, harus dikaji secara mendalam. Jangan sampai mengabaikan
               perlidungan terhadap tenaga kerja, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, dan
               kepemilikan negara terhadap cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup
               rakyat banyak.

               Selain itu juga, jangan sampai mengabaikan kepemilikan negara terhadap bumi, dan
               air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya untuk dipergunakan sebesar-
               besarnya bagi kemakmuran rakyat.

               "Untuk itu, pembahasan RUU Cipta Kerja ini tak boleh dilakukan lewat sistem kebut
               semalam (SKS), hanya 3 ,4, 5 bulan. Kalau harus lima tahun, why not," katanya.

               Elnino menegaskan, pembahasan harus dilakukan lewat kajian yang komprehensif,
               melibatkan partisipasi yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, dan
               memenuhi seluruh aspek formal pembentukan undang-undang yang telah diatur UU



                                                      Page 210 of 234.
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216