Page 102 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 APRIL 2020
P. 102
Title MENURUT PENGUSAHA, INI 5 RISIKO JIKA KLASTER KETENAGAKERJAAN TAK DIMASUKKAN
DALAM OMNIBUS LAW
Media Name kompas.com
Pub. Date 28 April 2020
Page/URL https://money.kompas.com/read/2020/04/28/080800026/menurut-pengusaha-i ni-5-
risiko-jika-klaster-ketenagakerjaan-tak-dimasukkan
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
JAKARTA, - Presiden Joko Widodo memutuskan untuk menunda pembahasan
klaster ketenagakerjaan dalam RUU Cipta Kerja. Penundanaan pembahasan klaster
ketenagakerjaan dilakukan untuk merespons tunturan buruh yang keberatan
dengan sejumlah pasal dalam klaster tersebut.
Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo ) pun
menilai penundaan pembahasan kluster ketenagakerjaan dalam RUU Cipta Kerja
tidak berarti pembatalan kluster Ketenagakerjaan dalam omnibus law tersebut.
Menurut mereka, seharusnya pembahasan klaster ketenagakerjaan justru lebih
intensif di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Sebab, kondisi pandemi Covid-
19 yang mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pekerja yang
dirumahkan dalam jumlah yang sangat besar.
Apindo pun menilai, setidaknya terdapat lima risiko jika klaster ketenagakerjaan
dikecualikan di dalam pembahasan omnibus law.
Risiko pertama, semakin kecil peluang untuk menarik investasi padat karya
(produksi masal dengan teknologi rendah.
"Industri tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, elektronik, makanan dan
minuman, yang masih sangat diperlukan Indonesia mengingat kualitas SDM yang
ada (57,5 perse lulusan SD dan SMP, 30 persen lulusan SMA/SMK, hanya 12,4
persen lulusan Diploma dan Sarjana) dan tingkat pengangguran terbuka yang masih
tinggi tinggi yaitu 7 juta orang, belum termasuk setengah pengangguran yang
bekerja hanya beberapa jam seminggu," jelas Apindo di dalam keterangan tertulis
yang diterima Kompas.com, Senin (27/4/2020).
Risiko kedua, UU Cipta Kerja hanya akan menarik untuk industri padat modal yang
tidak banyak menyerap tenaga kerja.
Sebenarnya saat ini, kondisi tersebut telah tercermin di dalam data BKPM.
Data tersebut menunjukkan, investasi naik namun penciptaan tenaga kerja justru
turun dalam beberapa tahun terakhir. Di tahun 2018 setiap Rp 1 triliun investasi
hanya menyerap 1.277 tenaga kerja, jauh menurun dibanding tahun 2013, yaitu
setiap Rp 1 triliun investasi menyerap 4.594 tenaga kerja walaupun total investasi
Page 101 of 261.

