Page 103 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 APRIL 2020
P. 103

meningkat 2,7 kali dari Rp 398,3 triliun tahun 2013 menjadi Rp 809,6 triliun pada
               tahun 2019.


               "Dengan demikian dapat dilihat bahwa investasi yang masuk mayoritas industri
               padat modal yang memerlukan pekerja dengan skill yang tinggi, sehingga pencari
               kerja dengan skills rendah yang masih merupakan mayoritas pencari kerja akan sulit
               mendapatkan pekerjaan," tulis Apindo.


               Risiko ketiga, kondisi penyerapan tenaga kerja yang terus semakin menyusut
               mengakibatkan kesejahteraan dan kemampuan keuangan masyarakat semakin
               melemah.


               Hal tersebut dapat dilihat pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS)
               Kementerian Sosial 2019 yaitu penerima subsidi yaitu pelanggan listrik 98,6 juta
               orang (37,2 persen dari jumlah penduduk 265 juta orang) serta penerima bantuan
               iuran jaminan kesehatan 96,8 juta orang (36.5 persen dari jumlah penduduk).

               "Bila hal ini dibiarkan terus maka Indonesia tidak akan menikmati bonus demografi
               namun malah akan menghadapi beban demografi, karena rakyatnya tidak memiliki
               kesempatan untuk bekerja di sektor formal," ujar Apindo.

               Risiko keempat, Apindo menilai perusahaan padat karya saat ini dan mendatang
               akan terus disibukkan dengan dispute ketenagakerjaan antara manajemen yang
               berhadapan dengan pekerja dan pemerintah dalam menegosiasikan upah yang
               melampaui kemampuannya untuk membayar sehingga usaha berlangsung tidak
               produktif.


               Demikian juga halnya dengan biaya pesangon yang tinggi mengakibatkan tingkat
               kepatuhan rendah yang menyebabkan dispute berkepanjangan yang menguras
               waktu dan perhatian untuk mengembangkan usaha.


               Risiko kelima, UU Cipta Kerja tidak bisa memenuhi kebutuhan jenis-jenis pekerjaan
               di masa depan yang memerlukan fleksibiltas waktu kerja berbasis mingguan, harian
               bahkan per-jam yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permanent
               part-timer dimana seorang pekerja bekerja di lebih dari satu badan usaha di waktu
               yang sama sebagaimana terjadi di era industri 4.0.

               "Sementara itu Usaha Mikro dan Kecil bahkan Usaha Menengah (UMKM) akan terus
               beroperasi secara informal kerena tidak mampu memenuhi ketentuan formal
               peraturan perundang-undangan dalam hal pengupahan, jam kerja dan
               perlindungan/jaminan sosial kesehatan dan ketenagakerjaan, sehingga perlindungan
               kepada pekerja dalam hal jam kerja, upah dan kemampuan membayar iuran BPJS
               Kesehatan dan Ketenagakerjaan sangat lemah," jelas Apindo.













                                                      Page 102 of 261.
   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108