Page 213 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 213

Wana memaparkan, enam dugaan pelanggaran itu yakni, pertama, pemilihan platform digital
              yang  tidak  sesuai  dengan  Peraturan  Menteri  Koordinator  Bidang  Perekonomian  (Permenko)
              Nomor 3 Tahun 2020. Perjanjian kerja sama antara manajemen pelaksana dengan platform
              digital  dilakukan  pada  20  Maret  2020.  Sementara  Permenko  Nomor  3  Tahun  2020  yang
              mengatur teknis perjanjian kerja sama baru terbit pada 27 Maret 2020. Padahal Perpres Nomor
              36 Tahun 2020 menyebutkan bahwa perjanjan kerja sama harus dilakukan setelah munculnya
              Permenko.

              "Patut diduga perjanjian kerja sama itu bentuk maladministrasi karena dasar hukum teknis yang
              mengatur perjanjian kerja sama belum ada," paparnya.

              Kedua, pemilihan platform digital yang tak menggunakan mekanisme lelang pengadaan barang
              dan jasa. Menurut Wana, dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan
              Barang dan Jasa, menjelaskan bahwa pengadaan merupakan kegiatan pengadaan barang dan
              jasa yang menggunakan APBN/APBN mulai dari identifikasi kebutuhan hingga serah terima hasil
              pekerjaan.

              Ketiga, proses kurasi platform digital yang tidak layak. Sesuai Permenko, jangka waktu yang
              dibutuhkan manajemen pelaksana dan platform digital untuk melakukan kurasi paling lama 21
              hari sampai bisa ditetapkan sebagai lembaga pelatihan. Namun faktanya, proses pendaftaran
              sampai penutupan hanya berjarak lima hari.

              "Ada gap waktu antara manajemen pelaksana dengan platform digital tidak melakukan kurasi
              dengan baik," tuturnya.

              Keempat, penempatan program Kartu Prakerja yang tidak sesuai dengan kewenangan Kemenko
              Perekonomian.  Pengelolaan  Kartu  Prakerja  semestinya  menjadi  kewenangan  Kementerian
              Ketenagakerjaan. Kelima, pemilihan platform digital yang tidak sesuai prinsip pengadaan barang
              dan jasa pemerintah. Pemerintah tidak memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
              kesempatan untuk menjadi mitra program Kartu Prakerja. Merujuk Perpres tentang Pengadaan
              Barang dan Jasa, prinsip pengadaan semestinya efisien, efektif, transparan, terbuka, bersaing,
              adil, dan akuntabel.

              "Patut diduga pemilihan platform digital ini maladministrasi karena tidak sesuai dengan prinsip
              pengadaan barang/jasa," ujar Wana.

              Keenam, potensi konflik kepentingan platform digital. Dari 850 pelatihan yang diidentifikasi, 137
              di antaranya merupakan milik lembaga pelatihan yang juga merangkap sebagai platform digital.
              Dugaan ini juga masuk dalam kajian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait potensi konflik
              kepentingan platform digital yang sekaligus menjadi lembaga pelatihan.

              "ICW menuntut agar Ombudsman mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan program
              Kartu Prakerja karena indikasi maladministrasi sejak proses perencanaan," jelasnya.

              Diketahui, Pemerintah meluncurkan program Kartu Prakerja pada Jum'at (20/3/2020). Program
              tersebut berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2020 Tentang
              Pengembangan Kompetensi Kerja Melalui Program Kartu Prakerja. Selain diperuntukkan untuk
              para pencari kerja, program yang merupakan janji kampanye Jokowi itu juga ditujukan untuk
              para  pekerja  yang  menjadi  korban  Pemutusan  Hubungan  Kerja  (PHK)  akibat  pandemi  virus
              corona. Lewat program ini, Pemerintah menganggarkan Rp20 triliun..







                                                           212
   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217   218