Page 94 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 94

PRO-KONTRA BONUS PEKERJA DALAM RUU CIPTAKER AKAN DIBAHAS MENDALAM

              ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Golkar M Sarmuji mengatakan klausul
              soal bonus pekerja yang tercantum dalam RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) akan dikaji
              lebih dalam.

              "Masalah  pemberian  bonus  pekerja  akan  dibicarakan  lebih  dalam.  Intinya  melindungi  hak
              pekerja,  tetapi  juga  tetap  memperhatikan  kemampuan  perusahaan,"  ujar  Sarmuji  dalam
              keterangan di Jakarta, Sabtu.

              Seperti diketahui sebelumnya DPR kembali melaksanakan Rapat Paripurna pembukaan masa
              persidangan IV yang digelar secara virtual pada 15 Juni 2020 lalu dan menyoroti sejumlah RUU,
              salah satunya RUU Cipta Kerja yang masuk dalam agenda strategis DPR RI.

              Sarmuji  menambahkan  dari  sisi  urgensi,  RUU  Cipta  Kerja  harus  cepat  diselesaikan  tanpa
              menghilangkan aspek kecermatan.
              "RUU ini dibutuhkan agar Indonesia punya landasan kokoh untuk melompat, terutama pasca-
              pandemi  yang  telah  mengakibatkan  kemerosotan  lapangan  kerja  dan  meningkatkan
              pengangguran," kata Sarmuji.

              Dalam pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja, salah satu klausul yang masih menuai pro
              dan kontra saat ini adalah ketentuan mengenai bonus pekerja. Pemberian bonus tersebut diatur
              dalam Pasal 92 Bab IV tentang Ketenagakerjaan.

              Klausul  pada  draf  menyebutkan  perusahaan  wajib  memberikan  bonus  atau  penghargaan
              sebesar lima kali upah kepada pekerja yang telah bekerja minimal 12 tahun.

              Ketentuan  tersebut  dinilai  sejumlah  pihak  akan  sangat  membebani  biaya  operasional
              perusahaan yang kini masih sangat terpukul akibat pandemi.

              Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran meminta
              pemerintah dan DPR memperhatikan berbagai aspek saat menyusun klausul-klausul dalam RUU
              Omnibus  Law  Ciptaker.  Ia  berharap  pembuat  undang-undang  juga  memperhatikan  aspirasi
              pelaku industri.

              Menurut Maulana, ketentuan mengenai kewajiban perusahaan memberikan bonus hingga lima
              kali upah bagi mereka yang telah bekerja minimal 12 tahun akan memberikan beban operasional
              perusahaan yang sangat besar. Padahal situasi bisnis saat ini dan ke depan masih akan sulit.

              "Bonus pekerja yang dinilai sebagai pemanis (sweetener) ini arahnya ke mana? Dalam kondisi
              sekarang bisnis susah bersaing dan tumbuh di Indonesia karena adanya aturan upah minimum
              dan sebagainya," ujar Maulana.
              Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  sempat  mengungkapkan  data  per  1  Mei  bahwa
              jumlah  pekerja  sektor  formal  yang  telah  dirumahkan  akibat  pandemi  COVID-19  sebanyak
              1.032.960 orang.

              Sementara  pekerja  sektor  formal  yang  di-PHK  sebanyak  375.165  orang,  sedangkan  pekerja
              sektor  informal  yang  terdampak  Covid-19  sebanyak  314.833  orang.  Dengan  demikian,  total
              pekerja  sektor  formal  dan  informal  yang  terdampak  Covid-19  sebanyak  1.722.958  orang.
              (Ant/OL-7).





                                                           93
   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99