Page 116 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 MEI 2020
P. 116

konferensi pers virtual kemarin.

               Di sisi lain, Ida menekankan pula upaya pemerintah untuk memberikan
               perlindungan maksimal pada pekerja ABK melalui payung hukum baru turunan dari
               Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan UU Nomor 18 Tahun
               2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

               Selama ini, diakuinya, aturan mengenai tenaga kerja atau ABK perikanan berada di
               bawah pengawasan Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP). Sehingga, dengan
               adanya aturan baru ini nanti, maka urusan ketenagakerjaan termasuk tenaga kerja
               di laut akan menjadi domain dari Kemenaker.

               "Telah ada kesepakatan, saat ini dalam proses harmonisasi di Kementerian Hukum
               dan HAM," jelasnya.

               Dia menargetkan, harmonisasi ini bisa rampung dalam minggu-minggu ini. Dengan
               begitu, tak ada lagi dualisme kententuan peraturan perundang-undangan. "Kita
               harapkan kalau tidan minggu ini, minggu depan. Jadi bisa memberikan kepastian
               perlindungan kepada tenaga kerja termasuk yang ada di laut," tegasnya.

               Selain perlindungan, di dalam beleid tersebut juga mengatur hak-hak untuk para
               ABK. Termasuk, soal gaji yang dibayarkan kepada ABK.

               Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Willy Aditya menjelaskan, Kemenlu harus
               serius mendampingi korban untuk memperoleh rasa keadilan. Jika keluarga korban
               merasa perlu melakukan gugatan, Kemenlu harus memfasilitasinya agar terjamin
               hak-hak mereka. "Kita pernah punya beberapa kasus dimana pemerintah
               menyediakan pengacara untuk melakukan pembelaan," terang dia.

               Menurut Politikus Partai NasDem itu, Kemenlu tidak bisa berjalan sendiri dalam
               menghadirkan rasa keadilan bagi korban. Perlu ada kerjasama sinergis dengan
               banyak pihak, termasuk keluarga korban. Pemerintah harus serius menanganani
               kasus ini dari hulu hingga hilir.

               Kemenlu bisa bekerjasama dengan Kemenaker. Apalagi sudah ada Undang-Undang
               Pelindungan Pekerja migran. Pemerintah bisa melakukan pemeriksaan secara
               menyeluruh, mulai dari sisi perekrutan hingga perlakuan tidak manusiawi yang
               terjadi selama di kapal. "Jangan hanya separuh-separuh menyelesaikan kasus ini,"
               tegas dia.

               Wakil Ketua Baleg itu menegaskan, selain upaya penyelesaian secara diplomatik,
               Kemenlu juga harus menjadi wakil negara dalam melakukan pembelaan yang
               diperlukan. Menurutnya, ada banyak mekanisme hukum internasional yang bisa
               digunakan untuk memastikan hak-hak korban dapat diterima.

               "Itu harus serius dilakukan agar tidak terjadi lagi perlakuan tidak manusiawi
               terhadap WNI di kapal-kapal berbendera asing," terangnya.



                                                      Page 116 of 211.
   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121