Page 121 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 MEI 2020
P. 121
Title PENGUSAHA BEBERKAN ALASAN TERPAKSA PHK PEKERJA DI TENGAH PANDEMI CORONA
Media Name liputan6.com
Pub. Date 13 Mei 2020
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4252279/pengusaha-beberkan-alasan -terpaksa-
Page/URL
phk-pekerja-di-tengah-pandemi-corona
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Jakarta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memaparkan sejumlah alasan
perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) selama masa penyebaran
Virus Corona (Covid-19). Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta W Kamdani
mengatakan, alasan pertama yakni lemahnya permintaan pasar, termasuk akibat
kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
"Kedua adalah keterbatasan bantuan modal. Ketiga keterbatasan cash-flow
terutama untuk membiayai gaji tenaga kerja yang merupakan komponen tertinggi
dari biaya perusahaan," jelas dia kepada Liputan6.com , Selasa (12/5/2020).
Untuk dunia usaha , ia menambahkan, opsi non-stimulus yang dapat dilakukan
yakni dengan melalukan efisiensi berbagai post pengeluaran perusahaan yang
bersifat non-esensial atau masih bisa ditunda.
"Mencari pinjaman usaha baru/investasi baru dengan penjualan
saham/menggadaikan asset perusahaan, restrukturisasi perusahaan dalam skala
besar serta melakukan alih produksi dan pasar," bebernya.
Namun demikian, Shinta menyatakan, tanpa stimulus tambahan dari pemerintah
maka cepat atau lambat kinerja perusahaan akan lebih tertekan lagi.
"Memang sudah ada beberapa stimulus yang pemerintah keluarkan, hanya saja
realisasinya tidak lancar dan diperlukan jumlah stimulus yang lebih besar saat ini,"
sambungnya.
Kadin sendiri sebelumnya telah memperhitungkan adanya penambahan stimulus
sebesar Rp 1.600 triliun guna menjaga roda perekonomian. Jumlah tersebut hampir
empat kali lebih besar dari nilai anggaran yang pemerintah gelontorkan, yakni Rp
405,1 triliun.
"Tidak hanya dari segi demand (market, sektor riil) namun juga memperhatikan
stimulus dari segi supply yaitu perbankan, terutama untuk dapat melancarkan
penyaluran modal dengan bunga yang rendah bagi sektor-sektor riil yang
terdampak," tutur Shinta.
Page 121 of 211.

