Page 110 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 OKTOBER 2021
P. 110

Hal itu belum menjadi kesimpulan, sebab saat ini semua pihak masih menunggu data terbaru
              dari BPS pusat yang direncanakan akan dikeluarkan pada 5 November 2021.
              Dan setelah itu, akan berlanjut pada pembahasan penentuan UMP dan UMK Kabupaten/Kota
              2022.

              "Intinya kenaikan years to years 11 persen. Tetapi kalau perhitungan BPS nantinya baru setelah
              5 November kami tunggu saatnya saja," tegasnya.

              Aria  belum  memprediksikan  apakah  DIY  akan  kembali  mengalami  kenaikan  UMP,  pihaknya
              berharap ada kabar baik untuk semua kalangan.

              "Prinsipnya kami baru bisa melakukan perhitungan bila sudah mendapat data dari BPS. Angkanya
              keluar tanggal 5. Setelah tanggal 5 ya yang jelas kami dibatasi akhir November untuk penerapan
              UMP 2022, dan menurut PP 36 UMK itu akhir November," ungkapnya.
              Mersepon hal itu, Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) DIY Ruswadi
              menyampaikan, rasa keberatan terkait penggunaan PP 36 Tahun 2021 tentang penetapan upah
              itu tetap dirasakan oleh kalangan serikat.

              Pasalnya, dewan pengupahan dari unsur serikat pekerja tidak bisa lagi melakukan survei KHL.
              Kendati  demikian,  Ruswadi  berharap  Gubernur DIY  Sri  Sultan  Hamengku  Buwono  X kembali
              menaikan UMP di 2022.

              "Dari  awal  sudah  mendengar,  kemarin  juga  sedang  PPKM  berkepanjangan,  ekonomi  belum
              menggeliat, pertumbuhan dan inflasi ekonomi stagnan tapi tidak seperti itu, perusahaan yang
              survive juga banyak," katanya.

              Ruswadi  berharap,  Sri  Sultan  mempertimbangkan  daerah-daerah  perbatasan  dalam
              merumuskan penetapan UMP mendatang.

              Dan usulan kenaikan UMP 2022 dari kelompok DPD KSPSI DIY disampaikan Ruswadi sebesar 12
              hingga 15 persen. Saat ini usulan itu masih terus dilakukan penyempurnaan oleh para serikat
              pekerja, dan rencananya berkas usulan itu akan disampaikan ke Gubernur DIY melalui Sekda
              DIY.

              "Ini baru awal dan belum kami godok dan belum final, ya proyeksi kami sekitar 12 sampai 15
              persen yang kami usulkan. Nanti baru akan kami godok, tapi nanti angka yang akan muncul
              secara umum segitu," ungkapnya.

              Ruswadi mengatakan, wilayah DIY terbilang rapi dalam merumuskan penetapan upah. Sebab
              melibatkan dewan pengupahan dan prosesnya terstruktural dari unsur apindo, serikat pekerja
              dan pemangku kebijakan. Namun entah mengapa, wilayah DIY masih rendah angka UMP-nya
              meski telah melibatkan dewan pengupahan.

              "Saya pernah ke Magelang, di sana itu gak ada dewan pengupahan. Hanya informal saja antara
              pekerja, Apindo, dan pemangku kebijakan. DIY yang prosesnya rapi tapi kenapa selalu tertinggal
              dari mereka," jelas Ruswadi.

              Kini Ruswadi dan para pekerja lainnya masih menantikan pemaparan data dari BPS, sebagai
              formula untuk merumuskan upah.
              "Kami berharap ada keterbukaan data dari BPS, jelas kami nantikan dan jika ada ketidaksesuaian
              ya akan kami sampaikan," pungkasnya.

              (hda).

                                                           109
   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115