Page 112 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 112

UPAH MINIMUM 2022 NAIK 1,09 PERSEN, MENAKER: ITU SALAH SATU INSTRUMEN
              PENGENTASAN KEMISKINAN
              Begitu disampaikan Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziyah dalam konferensi pers yang disiarkan
              live melalui kanal YouTube Kementerian Ketenagakerjaan RI, Selasa (16/11/2021).

              “Rata-rata nasional kenaikan upah minimum yakni 1,09 persen,” ujarnya.

              Menaker juga mengatakan, penetapan Upah Minimum (UM) Tahun 2022, berdasarkan UU Nomor
              11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  dan  aturan  turunannya  PP  No.  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan, bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada pekerja/buruh agar upahnya
              tidak dibayar terlalu rendah akibat posisi tawar mereka yang lemah dalam pasar kerja.

              Kebijakan UM ini, merupakan salah satu program strategis nasional yang ditujukan sebagai salah
              satu instrumen pengentasan kemiskinan serta serta mendorong kemajuan ekonomi Indonesia
              melalui pengupahan yang adil dan berdaya saing.

              “UM adalah upah terendah yang ditetapkan oleh pemerintah yang berlaku bagi pekerja/buruh
              dengan masa kerja kurang dari 1 tahun pada perusahaan yang bersangkutan,” kata Ida Fauziyah
              dalam temu pers di kantor Kemnaker, Jakarta, Selasa (16/11/2021).

              Ida Fauziyah menjelaskan UM berdasarkan PP No. 36 Tahun 2021 hanya berdasarkan wilayah,
              yaitu Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Tidak ada lagi
              penetapan UM berdasarkan sektor, namun UMS yang telah ditetapkan sebelum 2 November
              2020 tetap berlaku hingga UMS tersebut berakhir atau UMP/UMK di wilayah tersebut telah lebih
              tinggi.

              “Dengan demikian UMS tetap berlaku dan harus dilaksanakan oleh pengusaha,” ujar Ida Fauziyah
              didampingi Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker, Indah Anggoro Putri, seperti dikutip dari laman
              resmi kemenaker, Selasa (16/11/2021).

              Sesuai SE Mendagri 561/6393/SJ perihal penetapan UM tahun 2022 kepada seluruh gubernur,
              Ida Fauziyah meminta Gubernur harus menetapkan UMP paling lambat tanggal 21 November
              2021.  Namun  mengingat  21  November  merupakan  hari  libur  nasional maka  penetapan  UMP
              harus dilakukan paling lambat 1 hari sebelumnya, yaitu 20 November 2021.

              “Dalam menetapkan UMK, maka harus dilakukan Gubernur paling lambat tanggal 30 November
              2021 dan dilakukan setelah penetapan UMP,” katanya.
              Ida Fauziyah menegaskan semangat dari formula UM berdasarkan PP Nomor 36 Tahun 2021
              adalah untuk mengurangi kesenjangan UM, sehingga terwujud keadilan antar wilayah. Ia menilai
              keadilan antar wilayah tersebut dicapai melalui pendekatan rata-rata konsumsi rumah tangga di
              masing-masing wilayah.
              Ditambahkan  Menaker,  mencermati  UM  yang  ada  saat  ini  tidak  memili  korelasi  sama  sekali
              dengan  angka  rata-rata  konsumsi,  median  upah  atau  bahkan  tingkat  penganggurannya.
              Contohnya, ada suatu kabupaten dan kota saling bersebelahan namun kabupaten memiliki nilai
              UM hampir 2 kali dari kota.

              “Ada pula, kabupaten dengan angka pengangguran sangat tinggi dan mayoritas penduduknya
              masih bertani, namun karena kabupaten tersebut memiliki wilayah industri sehingga dipaksa
              memiliki nilai UMK yang sangat tinggi,” katanya.
              Kepada  media,  Ida  Fauziyah  juga  memperkenalkan  sekaligus  meluncurkan  wagepedia, yakni
              kanal informasi milik kemnaker yang dapat dikases oleh seluruh pihak. Melalui wagepedia ini,


                                                           111
   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117