Page 227 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 227

BURUH TUNTUT UMP DKI JAKARTA NAIK 10%, BEGINI RESPONS PENGUSAHA
              PRIBUMI
              Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang melambat, Himpunan Pengusaha Pribumi
              Indonesia  (HIPPI)  menilai  langkah  Serikat  Buruh/Pekerja  melakukan  unjuk  rasa  di  Balaikota
              menuntut kenaikan Upah Minimum Provinsi atau UMP sebesar 10% dirasa kurang tepat. Meski
              begitu  para  pengusaha  pribumi  menyakini  ekonomi  Ibu  Kota  perlahan  mulai  pulih  seiring
              pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

              "Data dan fakta BPS DKI Jakarta harus kita tanggung dan hadapi dengan penuh kebersamaan
              dan berharap bahwa ke depan ekonomi Jakarta semakin tumbuh dan membaik sehingga UMP
              berikutnya dapat  naik  untuk kesejahteraan  pekerja  yang  lebih  baik,"  ujar  Ketua  Umum  DPD
              Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta dan Anggota LKS Tripartit Nasional,
              Sarman Simanjorang di Jakarta, Selasa (16/11/2021).

              Dengan semangat kebersamaan untuk selalu disiplin menjalankan prokes dalam aktivitas sehari
              hari dan mensukseskan vaksinasi,maka perekonomian saat ini sedang merangkak diyakini akan
              semakin membaik.

              Kondisi saat ini adalah tanggung jawab bersama untuk mengawal dan menjaga agar kasus covid
              19 ini tidak meledak lagi, sehingga pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2021 dan tahun 2022
              tumbuh positif dan kesejahteraan pekerja otomatis juga akan semakin baik.

              "Kita berharap agar Pemerintah DKI Jakarta dan Dewan Pengupahan dalam menetapkan UMP
              2022 berpedoman pada PP No.36 Tahun 2021 tentang Pengupahan dan mengacu data resmi
              dari  BPS  DKI  Jakarta  menyangkut  pertumbuhan  ekonomi,  inflasi,  paritas  daya  beli,  tingkat
              penyerapan tenaga kerja dan median upah," tambahnya.

              Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta merilis pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta kuartal
              III tahun 2021 sebesar 2,43% di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3,51%. Selama
              ini  pertumbuhan  ekonomi  Jakarta  selalu  di  atas  rata-rata  pertumbuhan  nasional,  tapi  pada
              kuartal  III-2021  adalah  sesuatu  yang  tidak  lazim  dimana  pertumbuhan  ekonomi  Jakarta
              melambat.

              Terakhir kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi Jakarta masih di atas rata rata pertumbuhan
              ekonomi  nasional  sebesar  10,91%  sedangkan  untuk  nasional  sebesar  7,07%,  dan  ekonomi
              Jakarta masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal tersebut.

              "Kondisi ini menggambarkan bahwa ekonomi Jakarta sangat terpuruk akibat pandemi covid 19.
              Sebagai kota jasa, kebijakan PPKM sangat mempengaruhi berbagai aktivitas perekonomian di
              DKI Jakarta," ujar Sarman Simanjorang.

              Pemberlakuan PPKM darurat, kemudian PPKM level 1 sampai dengan 4 yang membatasi berbagai
              aktivitas  sektor  usaha  di  DKI  Jakarta  membuat  pertumbuhan  ekonomi  Jakarta  melambat.
              Berbagai sektor usaha seperti perdagangan, pariwisata, transportasi, aneka hiburan dan jasa
              yang selama ini jadi penggerak ekonomi Jakarta nyaris stagnan.

              Modal utama perekonomian Jakarta adalah pergerakan manusia, semakin bebas dan banyak
              manusia  bergerak.  Maka  disana  berpeluang  terjadi  transaksi  ekonomi,  tapi  selama
              pemberlakukan PPKM praktis semua sangat dibatasi.

              "Tapi kebijakan ini memang harus diambil dalam rangka mengendalikan penyebaran covid-19,
              dan hasilnya dapat kita rasakan saat ini dimana dengan kesadaran dan dukungan seluruh elemen
              masyarakat kita mampu mengendalikan covid-19 dan ekonomi kita sudah mulai merangkak,"
              katanya. (akr).

                                                           226
   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232