Page 444 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 444

Dua usulan tersebut yakni usulan dari serikat pekerja dan perhitungan pemerintah.

              Dari perhitungan pemerintah, UMK 2022 yang di hitung berdasarkan PP 36/2021 ada kenaikan
              sebesar 0,89 persen dari UMK 2021 yaitu dari Rp 2.810.025 menjadi Rp 2.835.021,29 atau naik
              sebanyak Rp 24.996.

              "Perhitungan  dari  pemerintah  itu  berdasarkan  PP  36/2021.  PP  itu  sudah  menjelaskan
              rumusannya. Sudah ada, kami tinggal memasukan saja. Ada kenaikan 0,89 persen," jelasnya.

              Sedangkan usulan dari serikat pekerja dihitung dengan rumusan kebutuhan sehari-hari. Angka
              usulan yang didapatkan pun berbeda dari perhitungan pemerintah.

              Menurutnya Sutrisno, serikat buruh menggunakan haknya untuk menyampaikan usulan sesuai
              kebutuhan mereka. Meski terdapat perbedaan, pihaknya akan tetap menyampaikan dua usulan
              tersebut kepada Gubernur.
              "Ada dua usulan yang kami naikkan ke Pak Gubernur yaitu usulan dari teman-teman serikat
              pekerja dan usulan dari rumusan pemerintah. Apindo sepakat dengan usulan itu," katanya.

              Dua usulan itu akan segera disampaikan kepada Gubernur setidaknya Rabu (17/11/2021) besok.
              Gubenur sendiri telah membuat edaran kepada wali kota dan bupati untuk segera menyampaikan
              usulan paling lambat 22 November.

              Ia berharap, UMK yang nanti ditetapkan oleh Gubernur adalah UMK yang sehat. Artinya, UMK
              tersebut  bisa  disepakati  bersama  dan  membawa  keberkahan  bagi  serikat  pekerja  maupun
              pengusaha.

              Sementara itu, Anggota Dewan Pengupahan Unsur serikat pekerja dari KSPN, Slamet Kaswanto
              menyampaikan, serikat buruh dan serikat pekerja mengusulkan angka UMK 2022 sebesar Rp
              3.397.623,99.

              Angka  tersebut  didapatkan  dari  kebutuhan  hidup  layak  (KHL)  2021  ditambah  angka
              pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

              Untuk  mengetahui  angka  KHL,  pihaknya  telah  melakukan  survei  di  tiga  pasar  yakni  Pasar
              Jatingaleh,  Mangkang,  dan  Langgar.  Kemudian,  angka  KHL  diformulasikan  dengan  angka
              pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi dan didapatkan kenaikan sebesar 17 persen dari UMK
              2021.

              "Konsistensi kami sesuai UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa dasar penetapan upah
              minimum berdasarkan survei KHL. Sedangkan PP 36/2021, acuan itu ditiadakan," jelasnya.

              Serikat pekerja pun menolak dan tidak sepakat dengan penggunaan PP 36/2021 sebagai dasar
              acuan penetapan UMK 2022.


















                                                           443
   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448   449