Page 541 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 541
Pengiriman surat-surat itu, kata Sumanto, dia lakukan setelah sebelumnya pihak agensi meminta
biaya transportasi darat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Blitar sebesar Rp 9 juta
ditanggung dua pihak, keluarga Suprihatin dan agensi.
Namun, Sumanto menyatakan, keberatan dengan permintaan itu dan melaporkannya ke Dinas
Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Blitar.
Menurut pihak Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, kata Sumanto, pemerintah telah
menjamin biaya pemulangan jenazah TKI hingga ke rumah keluarga.
"Saya hubungi pihak-pihak itu tidak pernah mendapatkan jawaban. Padahal, kami hanya ingin
tahu kepastiannya saja, kapan jenazah almarhum dapat dipulangkan," ujar dia.
Sumanto mengatakan, kepastian kepulangan jenazah istrinya sangat berarti bagi keluarga
terutama bagi kedua anaknya, Rizky (kelas II SMP) dan Salsabila (kelas I SMP).
Setelah kedua anaknya dapat menerima kematian ibu mereka, kata dia, kini mereka hanya
berharap jenazah ibu mereka dapat segera dikuburkan di kampung halaman, Desa Babadan,
Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.
Menurut Sumanto, anak keduanya, Salsabila, memang masih sering menangis jika teringat
ibunya yang sudah meninggal.
Tapi, dia berharap, kesedihan yang ditanggung kedua anaknya akan segera berangsur mereda
setelah jenazah ibu mereka dikirim pulang dan dikuburkan.
"Kasihan mereka terutama yang kecil. Dia masih suka terbangun tengah malam dan menangis,"
ujar dia.
Diberitakan sebelumnya, dua bulan lalu pada Jumat (17/9/2021), Sumanto menerima kabar
bahwa istrinya, Suprihatin (44), meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit di Taiwan untuk
kedua kalinya.
Kabar itu disampaikan oleh pihak agensi yang memberangkatkan Suprihatin ke Taiwan tahun
2018 lalu untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Kabupaten Blitar adalah pemasok TKI terbesar di Jawa Timur setelah Ponorogo dan Banyuwangi.
Sebelum pandemi, setidaknya 5.000 warga Blitar berangkat ke luar negeri untuk bekerja.
Namun, lembaga pemantau isu buruh migran seperti Migrant Care menyebut bahwa riilnya bisa
dua kali lipat dari angka resmi. Mayoritas dari TKI adalah kaum perempuan yang bekerja di
sektor informal yaitu sebagai pembantu rumah tangga.
540

