Page 571 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 571

Hal tersebut membuat pembahasan soal UMP untuk Sulawesi Selatan sempat berjalan alot. Tidak
              ada persamaan pendapat antara serikat pekerja dan pengusaha.
              “Sesuai  rumus,  tidak  naik.  Dia  tetap.  Tetapi  hasil  rapat  dengan  dewan  pengupahan  ada
              rekomendasikan yang kita berikan ke plt Gubernur,” kata Tautoto, Selasa, 16/11/21.

              Ia menjelaskan pengusaha meminta agar UMP tahun depan tidak ada kenaikan. Hal tersebut
              mempertimbangkan  kondisi  perekonomian  pada  masa  pandemi  Covid-19  masih  dalam tahap
              pemulihan.

              Pengusaha bahkan meminta ke Plt Gubernur agar menetapkan UMP 2022 menjadi Rp 2.783.289
              dengan  dasar  nilai  inflasi  tahun  2021  yang  mencapai  1,62  persen.  Angka  ini  mengalami
              penurunan sekitar Rp400 ribu dari tahun ini jika ditetapkan.

              Di satu sisi, serikat pekerja meminta agar UMP tahun berjalan bisa naik hingga 5 persen. Dari
              yang sebelumnya Rp 3.165.876 menjadi Rp 3.324.170.

              Pertimbangan para pekerja itu berdasarkan pada aturan UU no 11 tahun 2020 tentang cipta
              kerja kluster ketenagakerjaan dalam proses gugatan di MK. Kemudian, meningkatkan daya beli
              pekerja, meningkatkan produktivitas, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan tidak semua
              perusahaan terdampak Covid-19.

              “Jadi itu yang bikin alot karena buruh minta naik, perusahaan minta turun,” bebernya.

              Dewan pengupahan kemudian mengeluarkan rekomendasi ke Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman
              Sulaiman. Rekomendasi itu mengatur soal batas atas dan batas bawah jika UMP diputuskan
              mengalami kenaikan atau penurunan.

              Batas atasnya Rp 3.052.039, sementara batas bawahnya Rp 1.526.019. Angka ini seharusnya
              ditetapkan pada saat penetapan UMP 2021 lalu.

              Batas atas itu didapat dari rata-rata konsumsi per kapita Rp 1.104.097, dikali rata-rata banyaknya
              anggota per rumah tangga 3,87 persen, dibagi rata-rata banyaknya anggota yang bekerja yakni
              1,4 persen, sehingga hasilnya Rp 3.052.039.

              Sementara untuk batas bawah dibagi dua dari rumusan hasil batas atas. Hasilnya Rp 1.526.019.

              Alhasil,  rapat  dewan  pengupahan  yang  dipimpin  oleh  Prof  Rahman  menghasilkan  bahwa  Plt
              Gubernur  harus  menetapkan  UMP  tahun  sebelumnya  sama  dengan  tahun  berikutnya.  Hal
              tersebut sesuai dengan aturan pemerintah nomor 36 tahun 2021 pasal 27 ayat 4.

              “Tapi  keputusan  ada  di  pak  Plt  Gubernur.  Dan  beliau  bilang,  UMP  ini  harus  rasional.  Tidak
              memihak ke pengusaha ataupun buruh. Harus win-win solution,” tukas Tautoto. (*)



















                                                           570
   566   567   568   569   570   571   572   573   574   575   576