Page 37 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 SEPTEMBER 2021
P. 37
PEMERINTAH JAJAKI PELUANG PENEMPATAN PEKERJA MIGRAN
Pandemi Covid-19 tak hanya memukul warganegara Indonesia (WNI) yang berada di dalam
negeri. WNI yang bekerja di luar negeri pun terimbas. Mereka sebagian dipulangkan oleh
pemerintah negara setempat.
Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Banyak pemerintah di negara yang selama ini
menerima WNI untuk bekerja, memulangkan buruh migrannya, karena industri di negara itu
juga terdampak pandemi. Selain itu, tak sedikit negara yang mengamankan lebih dulu
warganegaranya, dengan tidak menerima pekerja asing.
Dampaknya, sejumlah pekerja migran Indonesia (PMI) dipulangkan. Misalnya Pemerintah Sabah,
Malaysia selama masa pandemi rutin menangkap dan mengumpulkan pekerja migran tanpa
dokumen di suatu tempat. Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB) menuntut Pemerintah Malaysia
membuat kebijakan yang tepat agar buruh migran terjamin kesehatannya. Selama tahun 2020,
KBMB mencatat 12.877 warga migran tak berdokumen asal Indonesia dan Filipina ditangkap dan
ditahan di pusat tahanan imigrasi. Sebagian di antaranya anak-anak. (Kompas.id, 30/8/2021).
Malaysia selama ini menjadi tujuan utama pekerja migran asal Indonesia. Namun, pandemi
membuat pemerintah setempat menutup pintu bagi kedatangan pekerja migran, sehingga tahun
2020 hanya 14.630 WNI yang datang ke Malaysia untuk bekerja. Padahal, pada 2018 tidak
kurang dari 90.664 orang Indonesia masuk ke Negeri Jiran untuk bekerja, dan menurun menjadi
79.662 orang tahun 2019. Angka itu masih yang tertinggi dibandingkan tujuan negara lain.
Tahun 2020, negara tujuan utama PMI, adalah Hong Kong dan Taiwan.
Menurut data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), tahun 2020 sebanyak
113.173 WNI ke luar negeri untuk bekerja di negara tujuan. Jumlah ini menurun dibandingkan
dua tahun sebelumnya, yakni 276.553 WNI (2019) dan 283.640 WNI pada 2018. Tahun 2021,
dari Januari - Juli, sebanyak 40.805 WNI ke luar negeri untuk bekerja, dengan tujuan utama ke
Hong Kong, Taiwan, dan Italia.
Berbagai kebijakan penanggulangan pandemi diterapkan pemerintah, termasuk untuk
melindungi tenaga kerja di negeri ini. Seiring dengan membaiknya situasi pandemi Covid-19 di
Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan mulai pula menjajaki peluang penempatan pekerja
migran. Komunikasi dengan negara tujuan penempatan terus dijalin untuk memetakan kondisi
penyebaran Covid-19 di negara tujuan demi menjaga keamanan pekerja migran.
Kebijakan penutupan akses dan karantina wilayah untuk pengendalian penyebaran Covid-19
diterapkan oleh sejumlah negara, termasuk yang biasanya menjadi tujuan PMI. Pemerintah juga
menunda penempatan PMI, sebagai cara perlindungan terhadap calon pekerja migran maupun
pekerja migran.
"Dahulu ada beberapa kasus, pekerja migran yang saat di sini sehat, meninggal di negara
penempatan, sebab terpapar Covid-19. Kami tidak ingin hal itu terjadi lagi, sebab kewajiban
negara adalah melindungi warganya," ungkap Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam
wawancara virtual dengan Kompas, Selasa (7/9/2021).
Penanganan Covid-19 di Indonesia menunjukkan hasil dan penambahan kasus Covid-19 di
negerini cenderung terus menurun. Sejumlah kegiatan masyarakat yang semula dibatasi mulai
dilonggarkan. Kementerian Ketenagakerjaan pun turut menjajaki peluang pengiriman tenaga
kerja ke luar negeri lagi, terutama di negara tujuan PMI yang sudah melonggarkan kebijakan
penerimaan pekerja migran.
Ida mencontohkan, salah satu kawasan yang mulai membuka diri terhadap kedatangan pekerja
migran, adalah Hong Kong pada 30 Agustus lalu. Usai adanya pemberitahuan terkait pembukaan
36

