Page 352 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 OKTOBER 2021
P. 352

Dirjen  Pembinaan  Hubungan  Industrial  (PHI)  dan  Jamsos  Kemenaker,  Indah  Anggoro  Putri,
              mengatakan meski ada kenaikan tetapi UM 2022 tidak bisa memuaskan semua pihak. Namun itu
              tetap lebih baik dari 2021 di mana tidak terjadi kenaikan UM.

              Kirnadi menambahkan adanya kenaikan upah tentunya bakal berdampak pada daya beli dan
              tingkat konsumsi rumah tangga atau buruh. Dengan demikian, proses percepatan pemulihan
              ekonomi di masa pandemi kian optimal seiring dengan pelonggaran berbagai sektor di masa
              PPKM. "Kenaikan UM sangat membantu masyarakat dan pemerintah sendiri karena kenaikan
              upah akan ada peningkatan konsumsi yang akhirnya ada pertumbuhan ekonomi," jelas dia.

              Seusai  disahkannya  Undang-undang  Cipta  Lapangan  Kerja  akhir  Desember  lalu,  mekanisme
              penetapan upah minimum akan sejalan dengan berlakunya UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja
              dan Peraturan Pemerintah (PP) No.36/2021 tentang Pengupahan.

              Sekretaris  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (KSPSI)  DIY,  Irsyad  Ade  Irawan,
              mengatakan ada kemungkinan UM tahun 2022 mengalami kenaikan, tetapi yang menjadi pokok
              persoalan adalah apakah kenaikan tersebut benar mengacu pada survei Kebutuhan Hidup Layak
              (KHL)  buruh  atau  tidak.  Di  masa  pandemi  tahun  lalu  UM  juga  mengalami  kenaikan  tetapi
              menurutnya nilai yang ditetapkan belum sesuai dengan KHL.

              "Itu yang jadi pertanyaan. Apakah kenaikan itu signifikan atau kenaikan itu mampu memenuhi
              KLH,  dan  juga  ditetapkan  berdasarkan  prinsip  kolektif  bergaining  atau  terdapat  fungsi
              keterlibatan  serikat  pekerja  dalam  skema  perumusan  secara  demokratis  dan  berkeadilan?"
              ujarnya. "Jawabannya adalah tidak."

              Menurutnya,  kenaikan  UM  ditentukan  dengan  menggunakan  rumus  baku  dan  sama  yang
              mengacu pada UU No. 11/2020 dan PP turunannya. Menurut Irsyad sebenarnya itu mirip-mirip
              saja dengan PP No.78/2015 yang tidak mengikutsertakan survei KHL menggunakan rumus.

              "Singkatnya kalau masih menggunakan pedoman dasar dari PP 78/2015 kami tetap menolak
              karena tidak mengikutsertakan KHL."

              Irsyad pesimistis kenaikan UM tahun 2022 mendatang sesuai KHL. Kenaikan diperkirakannya
              hanya berkisar di rentang 7%-8% saja dan masih sangat jauh dari KHL di DIY. Pada tahun lalu,
              Irsyad menghitung kenaikan UM di DIY mesti di angka 40% jika ingin mencapai atau sesuai KHL.
              "Jika mengacu pada aturan di atas sebenarnya tidak solutif dan cenderung melestarikan masalah
              yang ada di DIY yakni upah murah, kemiskinan, dan ketimpangan. Untuk mengatasi tiga itu,
              perlu  adanya  kenaikan  UM  yang  signifikan  dengan  survei  KHL  dan  melihat  realitas  harga
              kebutuhan di pasaran saat ini, bukan dengan formula yang tidak mencerminkan KHL riil, yang
              ada buruh defisit dan harus menanggung ongkos lebih," jelas dia.

              Keberatan

              Sikap berbeda ditunjukkan pelaku usaha. Pengusaha di sektor pariwisata dan turunannya di DIY
              dinilai masih berat jika ada kenaikan UM tahun depan. Pasalnya, belum semua pengusaha belum
              bisa bangkit di tengah pandemi ini.

              Anggota Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY, Y. Sri Susilo, mengatakan terkait
              rencana kenaikan UMR pada 2022, tidak bisa digeneralisasi semua pengusaha bisa menerima,
              atau semua mampu.

              "Bagi konteks DIY bergerak di wisata turunannya, kalau ditanya kenaikan UMR masih berat.
              PHRI, Asita masih berat. Bergerak pariwisata kan baru pekan-pekan ini," ujar Susilo, Senin.



                                                           351
   347   348   349   350   351   352   353   354   355   356   357