Page 682 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 NOVEMBER 2021
P. 682

EKONOM INDEF: KENAIKAN UPAH BURUH MINIMAL SESUAI DENGAN PROYEKSI
              INFLASI TAHUN DEPAN
              Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  telah  mengumumkan  rata-rata  kenaikan  Upah
              Minimum Provinsi (UMP) tahun 2022 sebesar 1,09 persen.

              Menurut para buruh, perhitungan pemerintah dalam menaikan persentase gaji di tahun 2022,
              tidak tepat, sehingga hal tersebut dinilai sangat kecil sekali.

              Sementara  itu,  Ekonom  Institute  for  Development  of  Economics  and  Finance  (Indef)  Rusli
              Abdullah mengatakan, seharusnya kenaikan gaji buruh disamakan dengan laju inflasi tahunan.

              "Idealnya  kenaikan  upah  minimal,  sama  dengan  angka  inflasi,"  ucap  Rusli  saat  dihubungi
              Tribunnews, Kamis (18/11/2021).

              "Hal ini untuk mengimbangi agar upah riil tidak tergerus oleh inflasi," sambungnya.

              Senada dengan Rusli, Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira
              mengungkapkan, besaran gaji buruh yang kecil dapat menghambat kinerja konsumsi dan daya
              beli masyarakat.

              Sehingga hal tersebut berdampak kepada pertumbuhan ekonomi yang melambat.

              "Kenaikan upahnya cuma 1 persen, sementara proyeksi inflasi di atas 3 sampai 4 persen di tahun
              2022  ke  depan.  Ini  menyebabkan  konsumsi dan  daya  beli  rumah  tangga  justru  terhambat,"
              ungkap Bhima saat dihubungi Tribunnews, Rabu (17/11/2021).

              "Kenapa?  Upah  minimum  setidaknya  naik  di  atas  inflasi  dan  di  atas  pertumbuhan  ekonomi.
              Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki uang lebih untuk dibelanjakan," sambungnya.

              Bhima juga mengatakan, kenaikan gaji yang cuma 1 persen dinilainya kurang mengakomodasi
              kepentingan dari para buruh.

              Seperti diketahui, saat ini masyarakat masih berada di masa sulit imbas pandemi Covid-19.

              Ditambah lagi, Pemerintah belum lama ini memutuskan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan
              naik, dari 10 persen menjadi 11 persen mulai April 2022.

              Hal-hal seperti itu dinilainya sangat tidak memihak kepentingan pekerja.
              "Tahun depan ada kenaikan PPN 10 sampai 11 persen. Kebijakan ini kan tidak mengakomodasi
              kepentingan dari para pekerja," jelas Bhima.

              "Ini sebenarnya cukup berisiko menghambat daya beli masyarakat yang sekarang dalam masa
              pemulihan, dan pertumbuhan kinerja ritel juga berpengaruh," pungkasnya.

















                                                           681
   677   678   679   680   681   682   683   684   685   686   687