Page 106 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 106

KONFEDERASI BURUH INTERNASIONAL MINTA PEMERINTAH CABUT OMNIBUS LAW RUU
               Title
                              CIPTAKER
               Media Name     rmol.id
               Pub. Date      11 Maret 2020
                              https://politik.rmol.id/read/2020/03/11/424919/konfederasi-buruh-inter nasional-minta-
               Page/URL
                              pemerintah-cabut-omnibus-law-ruu-ciptaker
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative











               Sekretaris Jendral International Trade Union Confederation Asia Pacific (ITUC-AP)
               atau konfederasi serikat buruh internasional Asia-Pasifik, Shoya Yoshida,
               menanggapi Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) yang tengah
               dirampungkan pemerintah menggunakan metode omnibus law.


               AEER Dukung Mogok Kerja Buruh PLTU Mulut Tambang Sumsel I  Menurutnya,
               beleid yang ditujukan pemerintah untuk mempermudah investasi dan penciptaan
               lapangan kerja ini tidak sejalan, khususnya dengan semangat kesejahteraan kaum
               buruh.


               Dalam jumpa pers yang digelar di Hotel San Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta
               Pusat, Rabu (11/3) siang ini, Shoya Yoshida menyebutkan 6 degradasi, atau
               kemerosotan kesejahteraan kaum buruh.


               Di mana yang pertama, terkait pengaturan upah minimum pekerja. Shoya Yoshida
               melihat, pengaturan tingkat upah minimum di Omnibus Law RUU Ciptaker hanya
               akan didasarkan pada pertumbuhan ekonomi di tingkat provinsi, bukan berdasarkan
               dari biaya hidup sebenarnya.

               "Di mana ini bertentangan dengan Konvensi ILO Nomor 131 tentang Penetapan
               Upah Minimum, yang membutuhkan mekanisme penetapan upah minimum melalui
               mekanisme tripartit," kata Shoya Yoshida.

               "Sanksi tegas terhadap pengusaha karena tidak mematuhi tingkat upah minimum
               juga akan melemah secara signifikan," sambungnya.

               Menurut Shoya Yoshida, undang-undang yang berlaku saat ini, yakni UU
               Ketenagakerjaan 13/2003 menetapkan hukuman hingga 4 tahun penjara dan/atau
               pembayaran denda hingga Rp 400 juta, jika perusahaan tidak menjalankan standar
               upah minimum.

               Sementara di dalam Omnibus Law, aturan ini akan dihapus, termasuk persoalan
               pidana, baik mengenai standar pembayaran upah minimum maupun hukuman
               karena keterlambatan pembayaran upah.






                                                      Page 105 of 175.
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111