Page 166 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 166

Title          DEMO OMNIBUS LAW, SERIKAT BURUH SURABAYA TOLAK UPAH PER JAM
               Media Name     gatra.com
               Pub. Date      11 Maret 2020
               Page/URL       https://www.gatra.com/detail/news/471844/hukum/demo-omnibus-law-serika t-buruh-
                              surabaya-tolak-upah-per-jam
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative







               Surabaya,  Omnibus Law masih mendapat penolakan. Kali ini, penolakan datang dari
               ribuan elemen buruh, mahasiswa, dan masyarakat miskin Jawa Timur di Surabaya.


               Pantauan  ada ribuan massa dari GMNI, FSBI, KSPI, dan 37 organisasi serikat buruh
               yang lain yang tergabung dalam Gerakan Tolak (Getol) Omnibus Law. Mereka
               berkumpul, lalu berdemo dan berorasi di jalan Frontage Barat Ahmad Yani sejak
               pukul 13.00 WIB.

               Mereka menyuarakan penolakan terhadap sejumlah pasal yang mengintervensi hak
               asasi para buruh dalam Omnibus Law, termasuk penghapusan Upah Minimum
               Kota/Kabupaten (UMK).

               Koordinator Jaringan Komunikasi Serikat Pekerja Perbankan dan Aksi Getol, Dannis
               Seniar Yullea Paripurna mengatakan, salah satu pasal tersebut adalah definisi baru
               tentang cuti melahirkan dan haid. Aturan tersebut termaktub dalam Omnibus Law
               pasal 99 ayat 2.

               "Padahal pada Undang-undang sebelumnya tidak mengatur terkait haid yang
               dimaknai sakit. Pasal 13 Undang-undang tahun 2003, haid itu dimaknai sebagai
               kodrat," kata Dannis di jalan Frontage Barat Ahmad Yani, Rabu (11/3).

               Terkait sistem gaji pokok berdasarkan UMK yang dicurigai akan diganti dengan upah
               berdasarkan jam kerja, juga menjadi perhatian para buruh. Dannis menjelaskan,
               upah berdasarkan jam kerja tersebut sangat merugikan.

               Bahkan, jika dibandingkan dengan sistem UMK yang pada realisasinya, banyak
               perusahaan tidak membayar gaji sesuai UMK. Hitung-hitungannya, buruh hanya
               akan mendapat upah sebesar Rp27 ribu per jam jika Omnibus Law itu lolos.


               "Contoh, (tidak bekerja) kalau sakit, menjalankan ibadah sesuai agama, cuti
               melahirkan. Dengan (upah) hitungan jam, maka tidak akan dibayarkan (sesuai
               sistem gaji bulanan). Ini jelas merugikan," jelas Dannis.


               Dannis menduga, bahwa aturan tersebut hanya akal-akalan saja. Ditambah, aturan
               tersebut juga akan membuka kesempatan bagi pihak perusahaan untuk berbuat
               curang.









                                                      Page 165 of 175.
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171