Page 467 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 APRIL 2021
P. 467

ditentukan, maka akan dikenakan denda. Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan
              kini ekonomi sudah lebih membaik, maka THR wajib dibayar penuh. Aturan pemberian THR bagi
              pekerja dan buruh ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/IV/2021.



              PERINGATAN BUAT PENGUSAHA: THR TELAT, DENDA DI DEPAN MATA!

              JAKARTA  -  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  mengeluarkan  aturan  pemberian
              tunjangan hari raya (THR) keagamaan. THR wajib dibayarkan penuh kepada pekerja atau buruh
              paling lambat H-7 sebelum Hari Raya Idulfitri. Jika perusahaan telat membayar THR sesuai batas
              waktu yang ditentukan, maka akan dikenakan denda.

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan kini ekonomi sudah lebih membaik, maka
              THR wajib dibayar penuh. Aturan pemberian THR bagi pekerja dan buruh ini tertuang dalam
              Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/IV/2021.

              Selain  itu,  aturan  batas waktu  pembayaran  THR  tahun  ini  mengacu  pada  Peraturan  Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan bagi Pekerja atau Buruh di
              Perusahaan. Selain itu, pembayaran THR juga tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
              36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.

              "Ketentuan THR tahun 2021 sebagaimana ketentuan Peraturan Menteri nomor 6 tahun 2016
              bahwa pembayaran THR harus diberikan H-7 sebelum hari raya itu sendiri tiba," ujar Ida, dalam
              konferensi pers virtual, Senin, 12 April.

              Ida mengatakan, pembahasan pembayaran THR keagamaan tahun ini merupakan masukan dari
              lembaga kerja sama tripartit nasional dan tim kerja dewan pengupahan nasional (Depenas),
              serta komunikasi yang intens dengan pengusaha maupun serikat pekerja atau buruh.
              Pemerintah,  kata  Ida,  sudah  memberikan  dukungan  kepada  pengusaha  untuk  mengatasi
              dampak pandemi COVID-19. Hal ini agar ekonomi masyarakat bergerak seiring dengan kebijakan
              pemerintah untuk penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

              "Untuk  itu  diperlukan  komitmen  pengusaha  untuk  membayar  THR  secara  penuh  dan  tepat
              waktu," jelasnya.

              Ida  juga  meminta  agar  Kepala  Daerah  memastikan  perusahaan  membayar  THR  keagamaan
              kepada pekerja atau buruh sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kata Ida, bagi
              pengusaha yang tidak mampu membayar THR karena masih belum pulih dari tekanan pandemi
              COVID-19,  harus  melakukan  dialog  secara  bipartit  dengan  pekerja.  Hasil  dialog  itu  harus
              dilaporkan ke Dinas Ketenagakerjaan sebelum H-7 Hari Raya Idul Fitri.

              Kemudian,  manajemen  harus  menyerahkan  laporan  keuangan  dua  tahun  terakhir  untuk
              membuktikan bahwa keuangan perusahaan sedang tertekan. Nantinya, perusahaan itu diberikan
              waktu untuk membayar THR maksimal H-1 Hari Raya Idulfitri.

              "Laporan keuangan 2 tahun terakhir. Kalau ada perusahaan yang tidak memiliki kemampuan
              membayar sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dia harus melaporkan pembicaraan bipartit
              nya  kepada  dinas  ketenagakerjaan  sebelum  H-7,  karena  kelonggaran  yang  diberikan  hanya
              sampai H-1 Hari Raya Idulfitri," katanya.

              Ida Fauziyah mengatakan berdasarkan rekapitulasi akhir per 4 Juni 2020, pihaknya menerima
              410 laporan pengaduan terkait dengan pembayaran tunjangan hari raya (THR) Idulfitri tahun
              lalu. Dari jumlah tersebut, 307 perusahaan sudah selesai melalui pemeriksaan dan melakukan
              pembayaran THR.

                                                           466
   462   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472