Page 368 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 SEPTEMBER 2021
P. 368

(Tulungagung).  Penandatangan  tersebut  merupakan  bagian  dari  kerjasama  Kalyanamitra
              dengan  UN  Women dalam  mengimplementasikan  program  “Peningkatan  Kapasitas  Desa  dan
              Komunitas  Migran  Untuk  Pencegahan  dan  Respon  Kekerasan  Terhadap  Pekerja  Migran
              Perempuan dan Trafficking” selama dua tahun (2020- 2022).

              Rafail menilai, penandatangan SK Enam Desa ini sejalan dengan amanat dari Undang-Undang
              Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO dan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun
              2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presinden Nomor 69 Tahun 2008 tentang Gugus Tugas
              Pencegahan dan Penanganan TPPO.

              Desa bisa menjadi garda terdepan untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganan TPPO
              karena  desa  memiliki  akses  untuk  bersentuhan  langsung  kepada  masyarakat.  Apalagi
              berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terdapat 83.820 desa yang tersebar di seluruh wilayah
              Indonesia.

              “Berbagai  upaya  pencegahan  dan  penanganan  perlu  dilakukan  secara  komprehensif,  terus-
              menerus, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, swasta, organisasi
              masyarakat sipil, dan semua lapisan masyarakat,” tegas Rafail.

              Ia mengingatkan, modus-modus TPPO dari waktu ke waktu terus berkembang didorong oleh
              perkembangan  teknologi.  Hal  ini  menjadikan  TPPO  sebagai  kejahatan  yang  tidak  mudah
              ditangani.

              Pelaku TPPO seringkali mengiming-imingi korban dengan kehidupan yang lebih sejahtera dengan
              memanfaatkan  kerentanan-kerentanan  seperti  kemiskinan  atau  keluarga  yang  terlilit
              hutang.(Rafail Walangitan)

              “Pelaku  TPPO  seringkali  mengiming-imingi  korban  dengan  kehidupan  yang  lebih  sejahtera
              dengan  memanfaatkan  kerentanan-kerentanan  seperti  kemiskinan  atau  keluarga  yang  terlilit
              hutang,” tegasnya.
              Korban TPPO diperdagangkan untuk menjadi pekerja, dikawinkan secara paksa, serta dijadikan
              pekerja seks komersial. Kebanyakan pelaku TPPO sudah tergabung dalam sindikat yang sudah
              terstruktur, terorganisir, dan tersistem.

              Bahkan  di  masa  pandemi  Covid-19  ini,  berkembang  modus  baru  dalam  TPPO,  yaitu  pelaku
              seringkali menggunakan media sosial untuk mendekati korban, berperilaku sebagai orang yang
              dapat dipercaya korban, hingga kemudian korban terjebak untuk dieksploitasi. Bahkan, korban
              TPPO sering digunakan menjadi pelaku perekrutan kasus TPPO.

              Wajah perempuan Indonesia

              Ketua  Kalyanamitra,  Listyowati  mengungkapkan,  jika  bicara  pekerja  migran  Indonesia,
              sesungguhnya (kita) sedang berbicara tentang wajah perempuan Indonesia. Sebab, mayoritas
              PMI adalah perempuan. “Kerentanan perempuan pekerja migran Indonesia jadi salah alasan
              fokus perhatian kami, karena sampai detik ini masih dialami perempuan PMI,” tegas Listyowati.

              Oleh karena itulah, saat ini, Kalyanamitra bersama UN Women, Serikat Buruh Migran Indonesia
              (SBMI) serta pemerintah desa, bekerja di enam desa, yang menjadi kantong perempuan pekerja
              migran,  untuk  membangun  dan  membentuk  sistem  penanganan  dan  pencegahan  TPPO  dan
              kekerasan terhadap perempuan.

              “Salah satu caranya bagaimana sistem itu dilembagakan, dan berada dalam nomenklatur dan
              berada dalam satuan tugas di pemerintahan desa, tentang pencegahan dan penanganan TPPO
              di desa. Karena memang isu PMI bukan isu mudah, maka butuh kerja sama multistakeholder,

                                                           367
   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373