Page 10 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 OKTOBER 2019
P. 10

ranking 50 dari 141 negara.

               Padahal tahun lalu Indonesia di peringkat 45. Penurunan ini terjadi karena
               penurunan skor indeks daya saing global (Global Competitiveness Indeks/GCI) dari
               64, 9 poin menjadi 64,6 poin. GCI selama ini dipakai sebagai semacam indikator
               kemampuan negara-negara menyediakan kemakmuran tingkat tinggi bagi warga
               negaranya. Di Asia Tenggara, Indonesia masih kalah jauh dengan Singapura yang
               berada di posisi paling puncak dengan skor 84, 8 poin. Sementara itu, Malaysia di
               peringkat 27 (74,6) dan Thailand di posisi 40 (68,1). Merujuk laporan WEF,
               setidaknya terdapat lima komponen penyebab turunnya daya saing Indonesia, yakni
               sektor adopsi teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan, SDM, pasar tenaga
               kerja, dan produk pasar. Indonesia hanya unggul di stabilitas makroekonomi yang
               ditopang konsumsi domestik.

               Pada periode pertama, Jokowi telah berupaya meningkatkan daya saing dengan
               gencar membangun berbagai infrastruktur, seperti jalan tol, bandara, pelabuhan,
               dan terminal. Ini untuk mempermudah arus mobilitas barang dan manusia sehingga
               tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, namun juga menekan biaya
               produksi.

               Namun ironisnya, pada saat sama, pemerintah justru terkesan abai pada sektor
               pembangunan manusia. Fokus, energi, dan anggaran pemerintah kadung tersedot
               habis ke pembangunan infrastruktur. Konsekuensinya, pembangunan manusia jalan
               di tempat untuk tidak mengatakan mundur. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
               periode pertama memang naik, namun masih menyisakan residu persoalan.

               Di sektor kesehatan sebagai salah satu pilar penting kualitas SDM, masih memiliki
               sejumlah persoalan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018
               menunjukkan adanya peningkatan prevalensi pengidap penyakit. Di usia dewasa
               hingga usia, jumlah penderita penyakit tidak menular seperti hipertensi, obesitas,
               dan diabetes naik signifikan antara 8 dan 34 persen.

               Peningkatan prevalensi pengidap penyakit tidak menular ini menandai, sebagian
               besar masyarakat belum mengadaptasi gaya hidup sehat. Upaya pemerintah
               mempromosikan dan mengampanyekan gaya hidup sehat seperti melalui Gerakan
               Masyarakat Sehat (Germas) belum efektif. Kesadaran masyarakat masih rendah,
               terutama menyangkut pola makan dan olahraga.

               Persoalan lain di bidang kesehatan, masih tingginya angka kematian ibu dan anak.
               Meski menurun signifikan setiap tahunnya, angka kematian ibu dan anak tetap
               terbilang tinggi. Pada tahun 2018, Kemenkes mencatat ada 11. 533 bayi meninggal
               dan 2.335 ibu meninggal saat melahirkan. Jumlah itu turun drastis dari tahun
               sebelumnya. Pada tahun 2017, angka bayi meninggal mencapai 27.875, sedangkan
               kematian ibu melahirkan mencapai 4.295.

               Kerdil




                                                       Page 9 of 146.
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15