Page 11 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 OKTOBER 2019
P. 11

Kualitas kesehatan masyarakat juga dihantui problem kekurangan gizi anak yang
               berakibat pada maraknya kasus stunting. Saat ini, rata-rata secara statistik terdapat
               satu dari tiga bayi usia di bawah lima tahun mengalami stunting alis kerdil.
               Berdasarkan data Kemenkes, prevalensi balita stunting mencapai 30,8 persen.
               Kemenkes mencatat prevalensi stunting itu terdiri atas balita dengan badan sangat
               pendek (11,5 persen) dan balita dengan tinggi badan pendek (19, 3 persen).

               Menurut standar World Health Organisation (WHO), suatu wilayah dapat
               dikategorikan mengalami masalah gizi akut bila prevalensi bayi stunting mencapai
               lebih dari 20 persen atau balita kurus di atas lima persen. Di Indonesia, tingginya
               angka gizi buruk dan stunting bayi karena kurangnya asupan gizi akibat kemiskinan
               serta ketidaktahuan orang tua.

               Selain sektor kesehatan, yang perlu mendapat perhatian lebih pemerintah tentang
               kualitas tenaga kerja. Kita harus mengakui, kualitas tenaga kerja memang jauh di
               bawah negara-negara berkembang. Menurut Kementerian Tenaga Kerja
               (Kemenaker), jumlah tenaga kerja saat ini didominasi kelompok pekerja berlatar
               belakang pendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah (42,1 persen).

               Padahal, setiap tahun, pasar tenaga kerja butuh setidaknya 3,7 juta pekerja
               terampil dengan pendidikan minimal setara sekolah menengah atas. Bahkan, ke
               depan pada tahun 2030 Indonesia diprediksi akan membutuhkan sekitar 100 juta
               tenaga kerja terampil. Ironisnya, ketersediaan pekerja terampil saat ini hanya 50
               juta. Inilah yang menjadi salah satu faktor rendahnya daya saing Indonesia di
               kancah global.

               Rendahnya daya saing perlu diselesaikan dengan segera agar tidak berdampak lebih
               luas bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih, ke depan Indonesia akan
               mengalami ledakan demografi, di mana jumlah penduduk akan didominasi warga
               usia produktif (19--50).

               Bonus demografi lebih mirip pedang bermata dua. Di satu sisi, jika bisa
               meningkatkan kualitas SDM, member banyak keuntungan. Sebaliknya, jika gagal
               meningkatkan kualitas SDM, besar kemungkinan bonus demografi justru akan
               melahirkan bencana sosial.

               Maka, memasuki periode kedua, Jokowi diharapkan mampu mengakselerasikan
               pembangunan manusia sebagaimana janji semasa kampanye. Dengan
               memprioritaskan aspek pembangunan manusia, secara langsung berdampak pada
               meningkatnya kualitas daya saing Indonesia di kancah global.

               Pada titik inilah pemerintah hendaknya serius dalam menyusun road map (peta
               jalan) pembangunan manusia secara jelas dan komprehensif agar tidak sekadar
               wacana. Dua aspek utama yang tidak boleh dialpakan dalam pembangunan manusia
               ialah pendidikan dan kesehatan.

               Di bidang pendidikan, pemerintah idealnya memberikan perhatian serius agar



                                                       Page 10 of 146.
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16