Page 346 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 JULI 2020
P. 346

"Ada ratusan pasal dalam draf RUU ini. Tapi yang menjadi fokus kami, dan dianggap sangat
              merugikan  kaum  buruh  ada  pada  pasal  500-700,  yang  salah  satunya  membahas  terkait
              hubungan kerja/' kata Ketua Advokasi Serikat Buruh dan Pekerja Kabupaten Serang, Argo Priyo
              Sujatmiko seusai audiensi bersama pimpinan DPRD Banten, Selasa (21/7).

              Menurut Argo, poin besar yang kami garis besari terkait RUU ini adalah hubungan kerja yang
              diatur  didalamnya  yang akan  berpotensi  banyak  terjadi  yang  dilakukan secara  sepihak  oleh
              perusahaan kepada karyawan tetap.
              "Pada musim Covid-19 ini saja banyak pekerja yang kena PHK, pesangon seenaknya sendiri.
              Tidak lama kemudian perusahaan akan merekrut kembali, dengan status pekerja tetap atau
              kontrak (outsourching). Ini kasian nanti untuk generasi calon pekerja yang baru lulus sekolah,"
              ujarnya.
              Dalam kontek ini, lanjutnya, peran negara harus hadir. Pemutusan hubungan kerja boleh saja
              dilakukan oleh perusahaan, asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku.

              "Selanjutnya  adalah  sistem  kerja  outsourcing.  Saya  sepakat  ada  outsourching  asalkan
              kategorinya sesuai dengan aturan yakni security, pengeboran lepas pantai, cleaning Service.
              Hanya itu yang boleh. Sementara dengan adanya RUU onmibuslaw ini semua kategori pekerjaan
              boleh  dilakukan  outsourcing.  Core  produksi  pun  yang  merupakan  pekerjaan  vital,  boleh
              dilakukan outsourcing. Kalau dulu batasan kontrak itu tiga kali, kalau lewat dari situ sudah tidak
              boleh. Tapi dengan RUU itu boleh," tuturnya.

              Argo menambahkan, keinginan kawan-kawan tadi tidak hanya sekedar menyampaikan aspirasi,
              tapi juga sikap tegas dewan melakukan penolakan terhadap RUU ini berdasarkan hasil kajian.
              "Saya rasa DPRD juga sudah punya draftnya untuk dilakukan kajian," tegasnya.
              Menanggapi  hal  tersebut  Ketua  DPRD  Banten  Andra  Soni  menyambut  baik  apa  yang
              diaspirasikan oleh para buruh.

              Andra  berjanji  akan  menindaklanjuti  aspirasi  ini  ke  DPR  RI,  mengingat  yang  mempunyai
              kewenangan memutuskan adalah DPR RI.

              "Posisi kami tentu berada pada barisan kawan-kawan buruh, jika memang RUU ini dianggap
              akan berdampak buruk pada kaum buruh," katanya.

              Akan  tetapi,  lanjutnya,  karena  ini  alurnya  antar  lembaga,  tentu  harus  ada  mekanisme-
              mekanisme yang dilalui dan itu butuh waktu, sehingga tidak bisa sekarang kami putuskan.

              "Pasti akan kami sampaikan secara utuh aspirasi dari kawan-kawan buruh ini kepada DPR RI,"
              ujarnya.

              Kepala Disnakertrans Banten, Al Hamidi sepakat dengan apa yang sampaikan oleh DPRD.

              "Kita akan ikuti aspirasi dari temen-temen buruh. Sudah tiga kali kita melakukan rapat bersama
              membahas masalah aspirasi ini. Kita dukung. Yang terpenting aspirasi yang disampaikan sesuai
              dengan peraturan perundang-undangan berlaku," ungkap-nya.(RUS'ENK)
              caption:

              Ratusan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI)
              menggelar aksi di depan Gedung DPRD Banten, KP3B, Curug. Kota Serang, Selasa (21/7). Aksi
              tersebut dilakukan sebagi bentuk penolakan Omnibus Law Cipta Kerja yang dinilai merugikan
              pihak buruh.


                                                           345
   341   342   343   344   345   346   347   348   349   350   351