Page 165 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 FEBRUARI 2020
P. 165

Title          FRAKSI RAKYAT INDONESIA: LAWAN OMNIBUS LAW!
               Media Name     republika.co.id
               Pub. Date      21 Februari 2020
                              https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/20/02/20/q60c0u409 -fraksi-rakyat-
               Page/URL
                              indonesia-lawan-omnibus-law
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative






               JAKARTA -- Sejumlah gerakan masyarakat sipil yang tergabung dalam Fraksi Rakyat
               Indonesia (FRI) menyuarakan penolakan terhadap draf  Omnibus Law  RUU Cipta
               Kerja  . Koordinator Hubungan Antarlembaga Sentral Gerakan Buruh Nasional
               (SGBN) Akbar Rewako mengatakan RUU Cipta Kerja hanya membuat kehidupan
               buruh semakin sulit.

                "Bagi kami serikat buruh ini hancur  banget  , karena akan semakin melemahkan
               posisi buruh, kehidupan dan kesejahteraannya," kata Akbar dalam diskusi di kantor
               Walhi, Jakarta, Kamis (20/2).

                Akbar menilai ada dua hal yang mempengaruhi kehidupan buruh, pertama soal
               upah, kedua terkait fleksibilitas hubungan kerja. Dua hal tersebut menurutnya akan
               berpengaruh terhadap pesangon, cuti, dan jaminan sosial yang didapat kaum buruh.

                "Kita  sih  dari FRI bikin fatwa saja kali ya, fatwa lawan Omnibus Law, karena
               hanya itu yang bisa kita lakukan. Karena kalau ini  goal  selesai kehidupan kita,"
               ungkapnya.

                Hal senada juga disampaikan koordinator Perempuan Mahardika, Mutiara Ika
               Pratiwi. Menurutnya, adanya Omnibus Law berpotensi merugikan kaum buruh
               khususnya kaum perempuan.


                "RUU Cilaka ini dia menghancurkan tubuh perempuan, memiskinkan dan
               menjauhkannya dari akses pemberdayaan," ucapnya.

                Ia menilai, ruu tersebut tidak hanya mengatur soal upah, tapi bagaimana perlunya
               pemberdayaan perempuan dalam dunia kerja. Ia juga menilai, Omnibus Law Cipta
               Kerja sangat bertentangan dengan pemenuhan hak perempuan.


                "Hak perempuan menuntut agar tetap diupah dengan layak ketika hamil,
               melahirkan, dan menyusui dalam situasi yang tidak bekerja secara produktif,"
               ujarnya.

                Adapun, Ketua Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi
               (Sindikasi) Ellena Ekarahendy juga menyoroti terkait adanya kemungkinan
               pemberian upah murah kepada buruh apabila Omnibus Law RUU Cipta Kerja
               berhasil disahkan. Hal tersebut menurutnya diatur dalam pasal 88 b dan 88 c, dan
               90 b.





                                                      Page 164 of 223.
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170