Page 57 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 FEBRUARI 2020
P. 57

Menurutnya, hasil kerja dari Satgas Omnibus Law yang tidak diisi oleh perwakilan
               rakyat itu akhirnya melahirkan substansi Omnibus Law RUU Ciptaker yang hanya
               memberikan keuntungan kepada elite.


                "Substansi RUU Ciptaker memang hanya berisi beragam keuntungan untuk para
               elite mulai dari pengurangan pajak korporasi, penghapusan sanksi pidana, sampai
               kemudahan mengeksploitasi kelas pekerja dan lingkungan secara brutal," tutur
               Nining.

                Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa pemberian kewenangan yang terlalu luas
               kepada Presiden Jokowi di Omnibus RUU Ciptaker telah mencederai sistem
               pembagian kekuasaan sebagai prasyarat negara demokrasi.

                Menurutnya, itu terlihat seperti dalam Pasal 170, di mana pemerintah memiliki
               kewenangan untuk mengubah undang-undang (UU) menggunakan peraturan
               pemerintah PP dengan dalil demi untuk mempercepat kebijakan strategis cipta
               kerja.

                Nining menilai, pasal tersebut bertujuan untuk memposisikan eksekutif di atas
               legislatif. Bahkan, lanjutnya, pemerintah juga ingin mengambil alih kewenangan
               yudikatif yang memiliki wewenang meninjau UU.

                   Tutup Ruang Check and Balances  Nining pun menyampaikan, penyederhanaan
               perizinan dalam Omnibus Law RUU Ciptaker dengan menghilangkan banyak
               instrumen perizinan menutup ruang yudikatif untuk melaksanakan fungsi kontrol
               dan penyeimbangan alias checks and balances guna meninjau keputusan
               administratif eksekutif.


                Menurutnya, peralihan kewenangan terutama perizinan dari daerah ke pemerintah
               pusat ikut mencederai semangat desentralisasi yang merupakan salah satu konsep
               kunci dalam konstitusi amandemen Indonesia.

                Nining menyatakan bahwa hal ini membawa Indonesia kembali ke sistem
               sentralisasi seperti pada zaman Orde Baru, di mana ruang partisipasi masyarakat di
               daerah akan semakin sulit dan pelayanan publik akan semakin tidak efektif.

                "Substansi dalam draf Omnibus Law RUU Ciptaker telah membawa kembali
               Indonesia pada era otoritarianisme dan sentralisasi. UUD 1945 telah memberikan
               pengaturan mengenai pembagian kewenangan antara pusat dan daerah," ucapnya.

                Dia juga menyatakan bahwa Omnibus Law RUU Ciptaker merupakan kemunduran
               suara rakyat dalam pembuatan hukum. Menurutnya, beberapa pasal-pasal yang
               dihapus atau dimodifikasi lewat regulasi ini merupakan ketentuan penting yang
               diperjuangkan masyarakat lewat lembaga legislatif maupun yudikatif.

                 Menurutnya, Omnibus Law RUU Ciptaker menghilangkan beberapa ketentuan
               penting di bidang lingkungan seperti menghapuskan izin lingkungan kemudian,
               menggabungkannya dengan izin usaha.




                                                       Page 56 of 223.
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62