Page 56 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 FEBRUARI 2020
P. 56

Title          OMNIBUS LAW DINILAI KAPITALISTIK DAN MATIKAN DEMOKRASI
               Media Name     cnnindonesia.com
               Pub. Date      22 Februari 2020
                              https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200222042400-32-477017/omnibus -law-
               Page/URL
                              dinilai-kapitalistik-dan-matikan-demokrasi
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative







               Jakarta - Kelompok gabungan berbagai organisasi masyarakat sipil, Fraksi Rakyat
               Indonesia (FRI), memandang proses penyusunan dan substansi draf  Omnibus Law
               Rancangan Undang-undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) mematikan  demokrasi  .
               Selain politik, sisi ekonomi, ekologi, dan tatanan hukum juga terabaikan.

                Perwakilan FRI, Nining Elitos, menyatakan bahwa Omnibus Law RUU Ciptaker lahir
               dari kebijakan politik negara yang mengabaikan kedaulatan rakyat sebagai
               kedaulatan tertinggi.

                "(Omnibus Law RUU Ciptaker) mematikan demokrasi politik, ekonomi, ekologi, dan
               rule of law. RUU Ciptaker lahir karena sistem politik di Indonesia mengabdi kepada
               kepentingan oligarki (alias) sistem politik yang tidak mencerminkan nilai-nilai
               demokrasi menghasilkan kepemimpinan abai terhadap rakyat," ucap Nining dalam
               keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (21/2).

                Dia menyatakan bahwa Omnibus Law RUU Ciptaker lebih mencerminkan
               kepentingan bisnis dibandingkan kepentingan rakyat. Menurutnya, kelahiran
               Omnibus Law RUU Ciptaker didorong menjadi sebuah regulasi yang mengacak-acak
               sistem demokrasi ekonomi dan lebih bersifat kapitalistik.

                Nining berpendapat Omnibus Law RUU Ciptaker berpotensi menimbulkan kerusakan
               rantai ekologis, ekonomi, dan sosial.

                "Tatanan hukum menjadi tidak berarti dengan keberadaan RUU Ciptaker yang
               membangkang terhadap konstitusi. Padahal, negara hukum mewajibkan tindak
               tanduk negara untuk selalu didasarkan pada hukum," ujarnya.

                Setelah mempelajari proses dan substansi draf, lanjut Nining, FRI menyimpulkan
               Omnibus Law RUU Ciptaker merupakan sebuah keputusan politik yang dibuat dari
               elite, oleh elite, dan untuk elite.

                 Ia pun mengaitkan penerbitan draf Omnibus Law RUU Ciptaker dengan pertemuan
               yang dilakukan Presiden Joko Widodo bersama sejumlah elite pengusaha dan
               ekonom neoliberal yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Satuan
               Tugas (Satgas) Omnibus Law.









                                                       Page 55 of 223.
   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61