Page 88 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 MEI 2020
P. 88

"Saya hanya menerima THR dari puskesmas saja di tahun 2017 dan 2018 sebesar
               Rp 150 ribu, 2019 sebesar Rp 200 ribu, dan 2020 sebesar Rp 400 ribu," ujar Fadly.


               "Tidak ada (THR) dari Pemda ataupun instansi Dinas Kesehatan." tambahnya.

               Nasib serupa juga diterima oleh seorang perawat di sebuah puskesmas di
               Kabupaten Pati, Jawa Tengah, juga belum pernah menerima THR.

               "Taruhan kami nyawa, tapi upah ala kadarnya" ujar Satya, bukan nama sebenarnya.


               Padahal, ia mengaku jika beban pekerjaannya meningkat di tengah pandemi Covid-
               19.


               Selain bertugas di puskesmas, Satya juga dan 20 perawat lainnya, bergantian
               menjaga posko covid-19 yang bersiap menangani pasien virus corona.


               Gaji yang diterima Satya yang juga berstatus perawat THL di Jawa Tengah, per
               bulan adalah Rp 1,3 juta atau sekitar Rp 47.500 per hari. Gaji itu masih di bawah
               standar Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun ini, yakni Rp 1,7 juta.

               "Bisa dihitung sendiri berapa besaran gaji kami dengan tanggung jawab seperti itu.
               Taruhan kami terus terang kan nyawa, tapi upah kami ala kadarnya," ungkap Satya
               kepada Natasya Salim dari  ABC News  di Melbourne.


               Satya juga mengaku harus mencari sendiri alat pelindung diri (APD), karena tiap
               tenaga kesehatan di puskesmas tempatnya bekerja hanya dijatah satu APD per
               minggu.


               "Jadi pertama kali, kami menggunakan jas hujan yang harganya Rp 15 ribu atau Rp
               20 ribu berbahan plastik tipis," kata Satya.


               Sedangkan masker hanya dijatah empat buah per minggu, itu pun menurut Satya
               tidak memenuhi standar kesehatan.

               "Tidak ada kacamata. Mau pakai uangnya siapa? Gaji Rp1,3 juta saja masih beli
               perlengkapan sendiri," tambahnya.

               Kondisi APD yang tidak sesuai dengan ketentuan, membuatnya khawatir untuk
               bertemu dengan anggota keluarganya seusai bekerja karena takut menulari.

               Gaji dipotong  Gaji yang diterima Satya tentu tidak sebanding dengan jam kerja
               yang melebihi batas jam kerja PNS, yakni 7,5 jam per hari atau 150 jam per bulan,
               merujuk pada PP Nomor 53 Tahun 2010 dan Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun
               1995 tentang Hari Kerja di Lingkungan Lembaga Pemerintah.


               "Kalau saya, di puskesmas, [waktu] piket saya sekitar 17 sampai 20 jam. Kalau
               dihitung jam kerjanya, ya lebih [dari batas jam kerja PNS], sekitar 180 jam,"
               katanya Satya yang masih harus bekerja di luar piket.





                                                       Page 87 of 101.
   83   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93