Page 184 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 184

INI ALASAN KELOMPOK BURUH MUNDUR DARI TIM TEKNIS PEMBAHASAN RUU
              CIPTA KERJA

              JAKARTA,  - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (  KSPI  )  Said Iqbal  mengungkap
              sejumlah alasan kelompok  buruh  mundur dari tim teknis pembahasan  omnibus law  Rancangan
              Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja, khususnya terkait klaster ketenagakerjaan.

              "Pertama,  tim  tidak  memiliki  kewenangan  untuk  mengambil  keputusan  dan  kesepakatan
              apapun.  Tetapi  hanya mendengarkan  masukan  dari  masing-masing  unsur,"  ujar  Said  dalam
              keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (14/7/2020).

              Unsur yang dimaksud Said yakni pemerintah, serikat pekerja, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia
              (Apindo) maupun Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

              Alasan kedua, kata Said, unsur Apindo maupun Kadin mengembalikan konsep RUU usulan dari
              unsur  serikat  pekerja.  Pihaknya  semakin  kecewa  lantaran  Apindo  dan  Kadin  tidak  mau
              menyerahkan usulan konsep secara tertulis. Menurut Said, Apindo dan Kadin telah bersikap
              arogan karena telah mendapat dukungan dari unsur pemerintah, dalam hal ini Kementerian
              Ketenagakerjaan.
              "Barangkali mereka merasa di atas angin karena merasa didukung oleh unsur pemerintah," kata
              Said.

              Alasan ketiga, lanjut Said, ada kesan pembahasan akan dipaksakan selesai pada tanggal 18 Juli
              2020. Dengan jumlah pertemuan yang hanya empat hingga lima kali, serikat buruh memiliki
              dugaan ini hanya jebakan dan alat untuk mendapatkan legitimasi dari buruh.

              "Karena  tidak  mungkin membahas  pasal-pasal  yang  sedemikian  berat hanya  dalam  4-5  kali
              pertemuan," tegas dia.

              Alasan selanjutnya, masukan yang disampaikan hanya sekedar ditampung. Artinya, tidak ada
              kesepakatan dan keputusan apapun dalam bentuk rekomendasi dalam menyelesaikan substansi
              masalah  RUU Cipta Kerja  .

              Padahal, kata Said, ada sejumlah substansi persoalan yang harus diselesaikan dalam RUU Cipta
              Kerja klaster ketenagakerjaan, yakni Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK), Upah Minimum
              Sektoral Kota/Kabupaten (UMSK) hingga pemberlakuan upah per jam di bawah upah minimum.

              "Berdasarkan empat alasan di atas, kami dari KSPI, KSPSI AGN, dan FSP Kahutindo keluar dan
              mengundurkan diri dari tim teknis  Omnibus Law  RUU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan,"
              ucap Said.
              Semula,  tim  teknis  dibentuk  untuk  mencari  jalan  keluar  atas  buntunya  pembahasan  klaster
              ketenagakerjaan. Termasuk menindaklanjuti kebijakan Presiden Jokowi dan Ketua DPR RI yang
              menunda pembahasan klaster ketenagakerjaan.

              Dari unsur serikat buruh, mereka mewakilkan 15 anggotanya dalam tim teknis tersebut. Antara
              lain  dari  KSPI,  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (KSPSI),  Konfederasi  Serikat
              Buruh  Sejahtera Indonesia (KSBSI), hingga Federasi Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan
              Indonesia (FSP Kahutindo).

              Dalam perjalanannya, kata Said, tim ini bertemu untuk kali pertama pada Rabu (8/7/2020).




                                                           183
   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189