Page 249 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 249

JAKARTA,  - Sejumlah konfederasi dan serikat  buruh  memutuskan mengundurkan diri dari tim
              teknis yang membahas  Omnibus Law  Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja dalam
              unsur tripartit.

              Keluarnya  kalangan  buruh  dari  tim  teknis  yang  dibentuk  Kementerian  Ketenagakerjaan  itu
              disinyalir karena arogansi Asosiasi Penguasaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang Industri
              (Kadin).

              "Unsur  Apindo/Kadin  dengan  arogan  mengembalikan  konsep  RUU  usulan  dari  unsur  serikat
              pekerja dan tidak mau meyerahkan usulan konsep Apindo/Kadin secara tertulis," ujar Presiden
              Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  dalam  keterangan  tertulis  yang  diterima
              Kompas.com, Selasa (14/7/2020).

              Sebanyak 15 konfederasi dan serikat buruh memutuskan keluar dari tim tersebut.

              Meliputi,  KSPI,  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (KSPSI),  Konfederasi  Serikat
              Buruh  Sejahtera Indonesia (KSBSI), hingga Federasi Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan
              Indonesia (FSP Kahutindo).

              Semula,  tim  teknis  tersebut  dibentuk  bertujuan  untuk  mencari  jalan  keluar  atas  buntunya
              pembahasan klaster ketenagakerjaan.
              Termasuk untuk menindaklanjuti kebijakan Presiden Jokowi dan Ketua DPR RI yang menunda
              pembahasan klaster ketenagakerjaan.

              Dalam perjalanannya, kata Said, tim ini bertemu untuk kali pertama pada Rabu (8/7/2020).

              Dalam  pertemuan  tersebut,  serikat  pekerja  yang  tergabung  di  dalam  Majelis  Pakerja  Buruh
              Indonesia (MPBI) menyerahkan satu konsep bersama draf sandingan  RUU Cipta Kerja  kepada
              pemerintah dan unsur Apindo maupun Kadin secara tertulis.

              Menurut  Said,  isi  dari  draf  itu  berisi  analisa  dan  pandangan  serikat  buruh  mengenai  dasar
              penolakannya terhadap klaster ketenagakerjaan.

              Kemudian  juga  mengusulkan  agar  Undang-Undang  (UU)  Nomor  13  Tahun  2003  tentang
              Ketenagakerjaan  dijadikan  sebagai  perlindungan  kesejahteraan  yang  paling  minimal  bagi
              pekerja maupun buruh.

              Namun,  lanjut  Said,  saat  sidang  pertama  digelar,  secara  arogan  konsep  dan  draf  yang
              sebelumnya diserahkan kalangan buruh dikembalikan oleh unsur Apino maupun Kadin.

              Hal itu diperparah dengan tidak mampunya Apindo dan Kadin menunjukan konsep yang mereka
              tawarkan atas pengembalian gagasan yang sebelumnya lebih dulu ditawarkan kalangan pekerja.

              "Ini menunjukan Apindo/Kadin tidak memahami esensi pembahasan tripartit dan mengingkari
              makna  take and give  yang pernah disampaikan oleh ketua umum mereka dalam rapat pertama.
              Bahkan amanat Presiden Jokowi pun diabaikan," tegas dia.

              Kemudian, dalam pertemuan kedua pada Jumat (10/7/2020), Kadin dan Apindo menegaskan
              bahwa pertemuan di dalam tim teknis tersebut tidak perlu ada keputusan dan kesepakatan.

              Alasannya, karena tim tersebut hanya sekadar untuk memberikan masukan.

              Menurut  Said,  pihak  Apindo  dan  Kadin  menyatakan  jika  rapat  tim  teknis  tersebut  bukan
              perundingan para pihak.
              Padahal, hasil pembahasan tim tersebut berupa rekomendasi untuk Presiden Joko Widodo.

                                                           248
   244   245   246   247   248   249   250   251   252   253   254