Page 28 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MARET 2020
P. 28
"Bahwa memang dari sisi kami peritel, karena kami bukan produksi, bukan sisi hulu
tapi dari hilir, kalau liburan itu akan memberikan dampak untuk orang berbelanja,"
ujar Ketua Umum Aprindo Roy Mande kepada detikcom, Senin (9/3/2020).
Roy mengungkapkan setiap hari libur selalu ada peningkatan konsumsi masyarakat
di sektor ritel. Terutama untuk libur menjelang lebaran, peningkatan konsumsi
masyarakat bisa mencapai 30% dari konsumsi normalnya. Sehingga, penambahan
libur sebenarnya tak banyak berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi
masyarakat, meski memang sedikit berpotensi.
"Sebenarnya tergantung juga, liburnya kapan, kalau liburnya di awal atau akhir
bulan itu posisinya meningkat dibanding tengah-tengah bulan, karena biasanya di
saat-saat itu masyarakat menerima income, jadi tidak hanya karena tambahan libur.
Nah kalau menjelang lebaran itu bisa meningkat sampai 30%, bahkan dari hari atau
minggu sebelumnya itu sudah meningkat," paparnya.
Meski sedikit diuntungkan, akan tetapi tetap ada beban biaya yang harus
dikeluarkan karena tambahan libur tersebut. Salah satunya terkait biaya lembur bagi
tenaga kerja yang tetap berjaga selama libur.
"Sebenarnya kalau kita dipanggil untuk berdiskusi kita ingin menanyakan terkait
upah lembur tenaga kerja, soalnya begini, kalau menambah begitu kan, artinya kita
menambah jam kerja, yang mestinya libur jadi tidak libur yang bertugas di toko, itu
bagaimana relevansinya dengan peraturan ini, artinya bisa saja ada tambahan
peraturan yang menuliskan bahwa masa kerja progresif adalah pada H-1 saja H+1
kan gitu, jadi kita kan jelas, sehingga dengan adanya tambahan liburan tidak
menambah biaya produksi atau biaya lembur, jadi sebenarnya di satu sisi
memberatkan untuk kami karena peningkatan biaya produktifitas ini," paparnya.
Untuk itu, Roy mengimbau kepada pemerintah agar ke depannya dapat lebih
melibatkan para pelaku usaha dan pelaku ritel terkait kebijakan serupa agar tak
merugikan salah satu pihak.
Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
Bhima Yudhistira mengatakan penambahan libur yang diputuskan pemerintah belum
tentu efektif untuk meningkatkan konsumsi daya beli masyarakat.
"Belum tentu efektif (tambahan libur) dan bisa menurunkan konsumsi masyarakat,"
kata Bhima kepada detikcom, Senin (9/3/2020).
Di tengah merebaknya virus corona seperti sekarang ini, Bhima mengaku aneh jika
libur berdampak signifikan terhadap ekonomi. Pasalnya, masyarakat dinilai lebih
banyak menunda ke pusat perbelanjaan dan memilih untuk di rumah.
"Dengan kondisi masih terdampaknya pariwisata karena virus corona dan belum
tahu kapan wabah ini akan berakhir, cukup aneh kalau ada dampak libur yang
signifikan ke ekonomi. Yang terjadi justru masyarakat lebih banyak berdiam di
Page 27 of 117.

