Page 77 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 aGUSTUS 2019
P. 77
Silvester bercerita, sebelum ini keluarga pernah menemui orang yang mengatur
kepergian Yosep Malo secara ilegal ke Malaysia. Setelah tidak ada kabar dalam
beberapa tahun pertama, mereka khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Namun, calo
yang masih tetangga desa itu mengatakan, Yosep Malo baik-baik saja.
Jenazah Ke-74
Yosep Malo adalah jenazah ke-74 Pekerja Migran Indonesia (PMI) tahun ini. Hari
Minggu, 18 Agustus kemarin, tiba pula di Bandara El Tari Kupang, jenazah PMI atas
nama Nasrun, yang berasal dari Ende, NTT.
Dengan demikian, hingga pekan ini sudah 75 PMI meninggal di luar negeri, khusus
dari NTT. Mayoritas mereka adalah korban perdagangan orang. Data 2018 misalnya
menunjukkan, dari 105 jenazah yang pulang ke NTT, hanya tiga yang berangkat
secara legal ke luar negeri.
Bersama jenazah yang tiba pada 10 Agustus lalu, keluarga hanya diberi kabar
bahwa Yosep sempat sakit di Malaysia. Badannya mengalami bengkak, tetapi tidak
dijelaskan jenis penyakit yang diderita. Selain itu, keluarga akhirnya juga tahu
bahwa calo yang membawa Yosep tidak mengantar sendiri para pekerja itu ke
perkebunan yang mempekerjakan mereka.
Menurut Silvester, berdasar cerita yang mereka terima, di tengah jalan rombongan
pekerja itu dulu diserahkan ke pihak lain.
Yang lebih menyakitkan lagi, beberapa hari setelah meninggalnya Yosep Malo,
keluarga menerima uang Rp 7.035.000. Itulah uang yang ada dari hasil bekerja
selama 11 tahun. Padahal Yosep tidak pernah menggunakan uang untuk pulang
kampung, dan juga tidak pernah mengirim hasil kerjanya ke keluarga.
Salah satu kerabat Yosep, Andrianus Bulu Milla kepada VOA bercerita, tak ada uang
lain yang diterima pihak keluarga sejauh ini.
"Kami sendiri kurang tahu, siapa yang membiayai pengiriman jenazah, kemungkinan
perusahaan tempat dia bekerja. Kalau uang itu sendiri, sudah digunakan dalam
proses pemakaman dan lain-lain, kemungkinan sudah habis karena budaya Sumba
butuh uang dalam pemakaman," kata Andrianus.
Keluarga tidak tahu, apakah uang Rp 7.035.000 itu adalah tabungan hasil kerja
Yosep ataukah memang itulah gajinya selama 11 tahun bekerja. Sampai saat ini,
pekerja lain yang berasal dari desa-desa di sekitar mereka, juga belum memberi
keterangan karena komunikasi yang terputus.
Andrianus mengatakan, bekerja di Malaysia memang menjadi salah satu pilihan bagi
banyak warga desa untuk memperbaiki kehidupan. Sulitnya menemukan pekerjaan
di kampung halaman mendorong mereka mengambil resiko itu.
Page 76 of 81.

