Page 90 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 JULI 2019
P. 90
Title MENEGUHKAN KOMITMEN K3 DI LINGKUNGAN KORPORASI
Media Name koran-jakarta.com
Pub. Date 23 Juli 2019
Page/URL http://www.koran-jakarta.com/meneguhkan-komitmen-k3-di-lingkungan-korp orasi/
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Dalam perusahaan, pengelolaan aspek Health, Safety, Security, Environment (HSSE)
atau Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lindung Lingkungan (K3LL) tidak
boleh dipandang sebelah mata. Pasalnya, mis-manajemen dalam elemen K3LL dapat
berdampak pada terganggunya operasional, bahkan lebih serius lagi, ditutupnya
suatu perusahaan, jika dampak yang timbul sangat masif.
Suatu insiden K3 yang masif, dapat membuat organisasi perusahaan bangkrut
lantaran menjual asetnya untuk membayar ganti rugi yang ditetapkan pengadilan.
Skenario terburuk itu bukan isapan jempol, namun sangat mungkin terjadi jika
aspek K3 tidak menjadi prioritas utama perhatian perusahaan.
Atas dasar itu, PLN, BUMN yang menjadi salah satu tulang punggung energi negeri
ini, terus melakukan upaya peningkatan mutu pengelolaan K3LL atau yang biasa
disingkat K3. Seperti yang dipaparkan Antonius RT Artono, EVP K3LL PLN. "Kami
menyadari vitalnya aspek K3, karena bagi kami karyawan dan dukungan masyarakat
sekitar area operasional khususnya, adalah aset terpenting perusahaan. Jadi kami
selalu berupaya untuk meningkatkan pengelolaan K3LL agar aspek kesehatan,
keselamatan, keamanan, dan lindung lingkungan terus terjaga," papar Anton.
Menurutnya, penyebab dari kecelakaan kerja umumnya disebabkan dua aspek,
yakni unsafe action dan unsafe condition . Penyebab pertama umumnya karena
pengabaian terhadap peralatan dan prosedur keselamatan dalam bekerja. Misalnya,
pekerja lalai memakai berbagai alat perlindungan diri (APD), seperti helm, rompi,
sepatu bot, sarung tangan, dan sebagainya. Sementara aspek kedua karena
lingkungan kerja yang tidak aman seperti jalan licin, berlubang, ataupun
infrastruktur kerja yang kurang lengkap.
"Sebenarnya kita harus aware kejadian-kejadian penyebabnya kalau near miss atau
hampir celaka. Karena dari data statistik, yang bersumber dari Rasio Insiden Model,
dinyatakan, dalam satu kali kecelakaan kerja, sebelumnya diawali dari 30 kali jenis
kecelakaan yang injury , yang mengkibatkan korban meninggal atau berakibat fatal.
Ini apabila dilihat dari statistik, rata-rata seluruh dunia seperti itu. Satu orang
meninggal, diawali dari 29 kali kejadian injury minor. Sedangkan sejumlah
investigasi memperlihatkan, terjadinya 29 kali injury minor tersebut, sebenarnya
(didahului) juga oleh 300 kali kecelakaan yang near miss ," jelas Anton.
Page 89 of 122.

