Page 17 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 JUNI 2020
P. 17
Gojek merupakan perusahaan rintisan yang sukses menjalankan model bisnis. Dari semula
hanya menjadi operator transportasi daring berupa ojek, perusahaan yang berdiri pada 2009 itu
kini layanannya semakin luas hingga menyasar sektor keuangan. Fitur-fiturnyapun kini
menyasar hampir semua sektor mulai dari food , jasa pengiriman, hingga pembayaran.
Terkait upaya efisiensi yang dilakukan Gojek, peneliti Indef, Bhima Yudhistira, mengungkapkan
bahwa perusahaan seperti Gojek tetap harus mempertimbangkan model bisnis yang
berkelanjutan. "Era bakar uang pasti segera berakhir karena startup terus memberikan promosi
dan diskon, sementara permintaan tidak naik," kata Bhima.
Dia menambahkan, PHK di perusahaan startup mengindikasikan bahwa secara umum hal
tersebut terjadi karena adanya tekanan pada seluruh sektor bisnis, baik konvensional maupun
digital akibat pandemi Covid-19. "Awalnya di sektor pariwisata, lalu sektor industri manufaktur.
Ternyata startup juga mengalami tekanan hebat. Tidak ada jaminan status unicorn bisa selamat
darikrisis," ujar Bhima.
Selain Gojek, perusahaan transportasi online lain, Grab, juga mengumumkan PHK terhadap 360
karyawannya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. PHK tersebut merupakan imbas dari
pandemi virus korona. Selain memecat karyawan, Grab Inc juga berencana menghentikan
sejumlah proyek untuk menyelamatkan perusahaan dari tekanan wabah Covid-19. "Sejak
Februari 2020 perusahaan telah melihat dampak nyata dari pandemi Covid-19 terhadap bisnis
perusahaan ,"kata CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan dalam suratnya kepada karyawan
seperti dikutip Okezone.com pekan lalu.
Di sektor e-commerce, badai PHK juga pernah menimpa Bukalapak pada September 2019. Saat
itu, sekitar 100 karyawan terpaksa dirumahkan sebagai bagian dari efisiensi perusahaan.
Menurut perusahaan yang sudah termasuk kategori unicorn itu, pengurangan karyawan
tersebut dilakukannya untuk kepentingan bisnis dalam upaya menjadi perusahaan yang terus
tumbuh dan menciptakan dampak positif untuk Indonesia. "Karena itu, kami perlu melakukan
penyelarasan secara internal untuk menerapkan strategi bisnis jangka panjang kami serta
menentukan arah selanjutnya," ucap manajemen Bukalapak saat itu.
Wajib Efisiensi
Pakar manajemen dariPPM School of Management Wahyu Tri Setyobudi mengatakan, di tengah
pandemi Covid-19 semua sektor industri terkena dampak. Tak terkecuali industri digital aplikasi
seperti Gojek yang baru saja mengumumkan pemangkasan ratusan karyawan.
Menurut Wahyu, jika satu sektor industri tertekan, maka industri lain yang terkait juga akan
tertekan. Karena itu, solusi paling rasional adalah bagaimana mengambil keuntungan pada
situasi pandemi Covid-19.
"Secara rasional, perusahaan akan bertindak seefisien mungkin sebab tidak bisa dipungkiri,
situasi pandemi Covid-19 menyebabkan daya beli masyarakat menurun," ungkapnya kepada
SINDOMedia di Jakarta, Rabu (24/6/2020).
Kendati begitu, pandemi merupakan sesuatu yang berbatas atau memiliki batas waktu sehingga
perusahaan akan mencari cara untuk bertahan pada kondisi membaik.
"Karakter pandemi itu ada batas waktu. Sekarang strategi perusahaan adalah bagaimana
menyesuaikan diri pada masa pandemi ini," ucapnya.
Menurutnya, yang pasti dilakukan setiap perusahaan atau industri adalah melakukan hibernasi
atau mencari cara agar hidup lebih panjang dengan mengefisienkan energi.
16

