Page 26 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 26
sebelum Covid-19 merebak, Jack Ma, pendiri Alibaba dalam diskusi di Forum Ekonomi Dunia
menyatakan bahwa 85% bisnis akan berbentuk e-cotnmerce dan 99% kegiatan perdagangan
akan dilakukan secara online. Selain itu, skala usaha kecil dan menengah akan mendominasi
kegiatan usaha sebesar 80% dan akan mengglobal pada tahun 2030.
Covid-19 diperkirakan akan semakin mempercepat fenomena automatisasi dalam proses
produksi, digitalisasi dalam transaksi pembayaran dan kegiatan perdagangan. Selain sejalan
dengan norma normal baru, yaitu keharusan menjaga jarak fisik mencegah penularan Covid-
19, tatanan normal baru dalam kegiatan ekonomi juga akan semakin cepat berlangsung karena
adanya efisiensi yang diperoleh. Akan semakin banyak tenaga kerja manusia yang bisa
digantikan secara mudah oleh robot.
Dari sisi sosial, penggunaan robot relatif tidak menimbulkan dampak negatif pada aspek sosial,
khususnya terkait hubungan industrial antara pemilik/manajemen dan karyawan. Dengan
adanya efisiensi berbasis automatisasi, berbagai persoalan ketenagakerjaan, seperti
demonstrasi yang menuntut kenaikan upah bisa diminimalisasi.
Tidak hanya itu, proses digitalisasi dalam sistem pembayaran akan mengenyahkan berbagai
kegiatan ekonomi yang selama ini ditangani manusia dalam dunia perbankan dan lembaga
keuangan. Bank akan tetap ada tapi bankir mungkin tidak diperlukan lagi. Secaraertahap,
transaksi jual beli dan perdagangan online akan menghilangkan pasar yang selama ini kita kenal
sebagai tempat tukar menukar dan jual beli.
Benar bahwa proses ini akan berjalan secara bertahap namun adanya pandemi Covid-19
diperkirakan akan mempercepat proses ini. Persoalan pokoknya adalah bagaimana dengan nasib
para pekerja yang tidak lagi dibutuhkan dalam proses produksi ini? Berapa banyak tenaga / /
manusia yang tersingkir akibat dari transformasi tatanan normal baru ini? Akankah mereka yang
kena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi Co-vid-19 sekarang bisa kembali
mendapatkan pekerjaannya dalam tatanan normal baru setelah pandemi Covid-19 berakhir?
Nasib Para Pekerja
Pandemi Covid-19 memicu terjadinya peningkatan jumlah pengangguran terbuka. Kamar
Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat bahwa terdapat sekitar 6 juta orang karyawan
yang dirumahkan dan/atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan demikian kini
jumlah pengangguran terbuka berjumlah 13 juta orang (10%).
Fase normal baru yang diharapkan akan menggerakkan perekonomian belum tentu mampu
menjawab persoalan pengangguran di tengah pandemi. Tidak ada jaminan para pekerja yang
terkena PHK atau dirumahkan akan mendapat pekerjaannya kembali.
Ada beberapa sektor kegiatan usaha yang dalam waktu dekat tidak dapat beroperasi karena
lamanya pemulihan yang dibutuhkan, sementara sektor-sektor yang bisa beroperasi akan
menerapkan protokol kesehatan sehingga tidak akan bekerja dalam kapasitas semula. Juga
banyak perusahaan yang sudah mengalami kesulitan keuangan menyebabkan mereka belum
tentu bisa beroperasi normal, terlebih jika tidak mendapatkan bantuan likuiditas dari
pemerintah.
Hal demikian, bersama dengan potensi pergeseran tren baru ke arah automatisai dan digitalisasi
dalam jangka menengah, membuat nasib para pekerja menjadi tidak menentu pada era normal
baru. Benar, akan ada lapangan kerja baru yang tercipta, namun demikian, lapangan kerja baru
belum bisa diketahui secara persis jenis dan jumlahnya.
Dalam kondisi ini, kebijakan dan program pendidikan dan pelatihan kerja yang
berkesinambungan bagi mereka yang menganggur dan terkena PHK/dirumahkan diperlukan
agar mereka dapat beradaptasi dengan tatanan normal baru dalam dunia ketenagakerjaan.
25

