Page 46 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 05 DESEMBER 2019
P. 46

Dalam hal ini, pekerja memahami keberlangsungan usaha, sedangkan perusahaan
               memahami kebutuhan pekerja.

               "Perundingan untuk padat karya. Itikad baik itu seperti ini, pengusaha secara
               terbuka dan dapat dipertanggunjawabkan menyatakan tidak mampu membayar
               UMK 2020. Tapi, kemudian, dia mengatakan, saya mampu menaikan berapa persen,
               tapi tidak bisa memenuhi UMK," katanya.

               "Pekerja harus bisa memahami kondisi ini. Bahwa begitulah kondisi perusahaan,
               sehingga dilakukan perundingan yang besaran tidak sesuai dengan Upah Minimum
               2020. Jadi, kedua belah pihak bisa menerima pun kalau jumlah di bawah UMK,"
               imbuhnya.

               Saut juga menegaskan, diktum 7 huruf D merupakan kebijakan tepat manakala
               melihat kondisi industri padat karya yang mengalami penurunan dalam
               keberlangsungan usahanya.


               Hal tersebut terlihat dari data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
               (Disnakertrans) Jabar. Dalam kurun 2016-2019, misalnya, 45 perusahaan industri
               garmen tutup, 4 perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja, 2 perusahaan
               pindah kab/kota di Jabar, dan 7 perusahaan lainnya pindah provinsi. Penutupan,
               pengurangan, dan perpindahan itu membuat 83.192 orang kehilangan pekerjaan.

               Apalagi, menurut Saut, perundang-undangan dan keputusan Mahkamah Konstitusi
               memperbolehkan perusahaan pindah ke daerah yang upah minimun lebih rendah
               maupun tutup permanen --tanpa ada hambatan.

               "Bila pengusaha tidak mampu, ada kemungkinan untuk pindah. Pengusaha
               keberatan dengan UMK, dia punya hak untuk pindah ke UMK yang lebih rendah.
               Tidak ada hambatan. Kalau dalam UU kita disebutkan pengusaha yang pindah
               berhak membawa atau mem-PHK," ucapnya.

               "Yang saya khawatirkan bukan keputusan, tetapi dampak sosial ekonomi yang
               dihasilkan oleh perundang-undangan. Ada hak dari pekerja untuk mendapatkan
               kenaikan, tetapi para pekerja punya risiko kehilangan pekerjaan," tambahnya.

               Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyatakan bahwa Kepgub dibuat
               dengan perhitungan tajam, rinci, dan mempertimbangkan semua hal. Itu dilakukan
               untuk mengakomodasi kepentingan semua pihak --pekerja maupun pengusaha.


               "Tujuan saya mencegah PHK, mencegah pindahnya perusahaan-perusahaan karena
               tidak sanggup UMK. Untuk pada karya, diinisiatifkan perlindungannya caranya
               bermartabat dengan poin yang sama sampaikan," kata Emil di Masjid Pusdai, Kota
               Bandung, Senin 2 Desember 2019.


               "Yang penting semua harus ada persetujuan Pemerintah Provinsi. Jadi, kami
               wasitnya. Jadi, jangan ada yang mengaku mampu, tapi mengaku tidak mampu
               padahal dia mampu. Kita akan membuat mekanismenya," tutupnya.





                                                       Page 45 of 96.
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51